
OLEH: SUMARLIN
MANA ada penjahat ‘segaul’ Very Idham Henyansyah
alias Ryan? Pria kemayu asal Jombang itu hobi fitness,
rajin merawat wajah, bahkan pintar mengaji. Saat menjalani
masa penahanan di LP Pondok Rajeg, Cibinong, Jabar,
Ryan masih bisa mengajar tari salsa, menulis biografi, juga
membuat album musik.
Ryan bukan tipikal penjahat biasa. ‘Prestasinya’ bikin
geleng-geleng kepala; mencabut 11 nyawa dengan
dinginnya. Memang masih kalah jauh dengan korban Amrozi
cs yang mencapai 202 orang. Tapi Ryan tetap di atas
Robot Gedek yang hanya berani menebas 6 nyawa anak
jalanan, setelah puas mencabulinya.
Di luar aksi kriminalnya itu, Ryan memang istimewa.
Aktivitas ‘keartisannya’ terus disorot. Termasuk ketika
dia memproklamirkan diri sudah berubah; bukan lagi gay,
tapi sudah memiliki pacar perempuan berkulit putih.
Ryan adalah anomali di alam kriminal. Cesare Lombrosso
(1835-1909), seorang dokter Italia yang mendapat julukan
Bapak Kriminologi Modern, mendeskripsikan penjahat
sebagai si buruk rupa; telinga tidak sesuai ukuran, dahi
menonjol, hidungnya pun bengkok.
Ryan tidak mewakili ciri-ciri fisik yang akhirnya menjadi
dasar kelahiran teori Born Criminal itu. Wajah Ryan ganteng,
kulitnya bersih, selalu tampil dandy—maka itu disukai
beberapa pria dan wanita yang menjadi korbannya.
Karenanya, ketika kemudian Ryan diketahui telah
menjagal belasan orang, banyak orang terhenyak. Mereka
tak percaya, malah (mungkin) ada yang ‘tidak rela’ orang
semanis Ryan menjadi pembantai sesama.
Robot Gedek lebih pas memainkan peran antagonis itu,
sepantas Brutus (Popeye), Two Face (Batman), Rahwana
(Rama & Shinta), atau Yuyu Kangkang (Ande-Ande Lumut).
Jadi, jangan kaget bila kerap muncul celetukan, “Aduuh..,
ganteng-ganteng kok jadi pembunuh,” untuk ‘membela’
Ryan. Andai si penjahat berparas buruk, pasti celetukannya
berubah begini; “Kapok koen!!! Wis elek, nyopet pisan!” (*)
marlinmetro@yahoo.com



