Kamis, Oktober 16, 2008

CERPENKU



TITIK KONTEMPLASI

"Nis, Nisa, itu lho Pak Sam, buatin teh hangat kok malah bengong," tegur Bu Lilik pemilik warung. Aku tersentak dan segera menyeduh teh dan menambah tiga sendok gula, akupun mengaduknya tetapi pikiranku terus mengembara, masih jelas darah segar memenuhi jalan dan anak manusia terbang memenuhi panggilanNYA. Takdir berkata lain, Ayahku tewas tertabrak truk ketika pergi mengajar di salah satu SLTP negeri. Tak terasa butiran air mata mengalir bak mata air, segera aku mengusapnya. Ini Pak tehnya silakan, "terimakasih Dek Nisa", Jawab pak Sam.

Pak Sam adalah salah satu langganan di warung lesehan Bu Lilik jadi tentunya saling mengenal satu sama lain. Melihat piring yang kotor di depan meja aku membawanya ke belakang untuk dicuci. Sekali lagi aku melamun, maaf salah kali ini berkontemplasi (meminjam istilah komunikasi) sama juga dengan berpikir sambil merenung tetapi berbeda dengan melamun itu yang dikatakan Dosenku dulu, aku bilang dulu karena aku pernah kuliah tapi cuma semester tiga alasannya bisa ditebak karena nggak ada biaya terpaksa aku DO/drop out dari PTS.

Teringat aku akan kedua adikku yang masih kecil dan membutuhkan biaya sekolah yang besar, darimana aku mendapatkan uang?. Si manis Eka yang masih duduk di bangku kelas 4 SD, merengek minta uang buat bayar SPP, kasihan dia sudah 5 bulan menunggak, sampai-sampai pernah nggak mau sekolah karena malu sama teman-temannya, Doni kakaknya sekarang menghadapi UNAS (ujian nasional) pasti membutuhkan biaya yang tak sedikit untuk masuk SLTP. Aku sendiri hanya pelayan warung lesehan yang tiap malam melayani pembeli, gajiku pas-pasan.

Andaikan aku lulusan sarjana mungkin nasibku lebih baik, tapi nggak juga, Anton tetanggaku yang sarjana aja masih nganggur. Aku protes kenapa pendidikan di negeri ini mahalnya selangit, katanya kita negeri kaya raya, subur makmur , penghasil minyak bumi, hutan yang luas, omonganku jadi ngelantur sekarang. Mungkin seharusnya para koruptor itu ditangkap dan harta yang dikorupsi dibagikan pada orang seperti kita yang serba kekurangan. Ini omong kosong orang harus berjuang untuk hidupnya sendiri persetan dengan koruptor!

"Dek Nisa ayo pulang apa mau jadi satpam? " Canda Pak Yoso suami Bu Lilik. Langkah kaki ini terasa berat seberat beban yang menggelayut menenggelamkan semangat mudaku, malam juga semakin dingin menyentuh pori-pori. Ibuku membukakan pintu, jam didinding lusuh menunjukkan pukul 23.00 malam. Segera aku merebehkan kepenatanku di kamar, memejamkan matapun tidak bisa lagi-lagi aku berkontemplasi bagaimana cara mendapatkan uang untuk biaya sekolah adik-adikku, rengekan dan tangisan mereka seakan dawai gitar yang menyayat menusuk, tangan-tangan halus Ibu barganti kasar ya Ibuku menjadi tukang cuci, sedangkan uang pensiuanan Ayahku tidaklah mencukupi.

Dengan bahasa halus dan lembut Ibu membujuk mereka memang kasih sayang ibu tak akan pernah aus. Mulailah otakku mengalir akan kenangan semasa kuliah dulu, Nana dan Tika adalah dua sahabatku. Tawa dan canda mewarnai denyut nadi, gosip-gosip terhangat teman sekampus selalu jadi bahan rumpian mulai dari cowok sampai isue ayam kampus. Sekilas aku tersungging tetapi tetap tak dapat menghapus segala beban. Ayam kampus memang jalan instan mendapatkan uang, tampangku cukup manis dan bodyku nggak kalah asik seperti si Sofi ayam kampus, tentulah sangat mudah. Apa aku harus jadi bagian mereka? menjadi perempuan yang dilaknat Tuhan dan di caci maki masyarakat?! Muncullah ketidakwarasanku.

Terngiang omongan tetanggaku "Dek Nisa tahu si Rini, itu lho rumahnya yang diujung jalan, kata Pak Tiyo dia pernah ketemu Rini malam-malam nongkrong dipinggir jalan sambil melambai-lambaikan tangannya, mobil mewahpun berhenti dan dia pergi entah kemana, amit-amit deh disini sekarang menjadi sarang perempuan yang nggak bener. "Maksud Mbak Mar apa? Masa Dek Nisa nggak ngerti juga, Rini yang badannya aduhai itu sekarang jadi perempuan nakal alias pelacur!, lihat aja sekarang bajunya bagus-bagus, HP yang ditenteng keluaran terbaru, darimana coba uangnya berasal kalau nggak melacurkan diri semua orang disini pada tahu "Cerocos Mbak Mar,". Jalan inikah yang ingin kutempuh? Selegit madu tapi, penuh bebatuan yang terkoyak. Darah di otak terasa berhenti, mata terasa berat.

Menghilangkan tekanan ini, yang menjadi hobiku dulu tak lain menghabiskan waktu di Mal, meskipun tidak membeli baju kesukaanku tetapi seakan suasan Mal membiusku. Aku berdiri di depan outlet baju di depanku ada pagar yang menjadi pembatas. Melihat sekelilingi, beragam manusia dengan segala kesibukan dan lalu lalangnya. Mataku tertuju pada beberapa gadis yang memilih baju sambil bercanda dengan teman-temannya, mengingatkanku kembali masa indah bersama kedua sahabatku. Di Mal inilah kita sering shoping baju, makan atau pun nonton bioskop. Jangankan membeli baju, buat makanpun sekarang harus diikat sekencang mungkin. Pandanganku tak beralih sedikitpun pada gadis-gadis itu. Tapi tiba-tiba laki-laki setengah abad mendekatiku merusak memoriku akupun kaget. "Mau kerja Dek tanya laki-laki itu sekilas aku melihatnya pakaiannya rapi, mengenakan kemeja putih dan bersepatu, tangan kirinya terpampang jam tangan mahal, menandakan golongan orang yang berduit. Aku cuma menggeleng, aku takut karena ini pengalaman pertama. "Apa mau lihat majalah ma Om," aku diam bingung dan risih. Apa dia pikir aku gadis "gampangan" yang bisa diajak ketempat tidur apa? pikiranku mulai kacau. Sengaja aku menggeser menjauh dari laki-laki itu. Dasar edan! Malah dia tambah mendekat. "Apa mau makan," Lagi-lagi aku terdiam. Suasan Mal yang dingin ber Ac seolah menjadi panas.

Aku menoleh kebelakang mengacuhkan, seperti pelawak yang tidak lucu ketika aku menoleh terlihat seorang pria sama seumuran dengan laki-laki disebelahku, bertubuh tambun, berkulit bersih serta berpakaian rapi tak beda jauh dari laki-laki tadi, dia mengangkat alis dan dahinya berkali-kali, dan tersenyum memandangku, seakan matanya berbicara menggoda. Gila! mimpi apa aku semalam dalam waktu bersamaan dua Harimau kelaparan seolah mau menerkamku. Selincah Rusa aku belari menjauh tetapi harimau yang satu masih penasaran tetap mengejarku. Aku mengatur irama napas, Goblok kamu Nis, di depanmu ada mangsa katanya butuh uang buat biaya adik-adikmu?. Terbayang kedua wajah polos adikku yang merengek sembilu. "Mau nggak makan ma Om," Aku menatap laki-laki itu . "Gimana dek maukan," tanya laki-laki itu lagi. Asap tebal memenuhi seraut wajah tiba-tiba muncul, ya wajah yang tak asing lagi, wajah kuyu yang semakin hari menampakkan goresan kepedihan dan penderitaan.

Ibu maafkan anakmu ini yang tidak bisa membahagiakanmu, ya inilah kesempatanku. Ayolah Nis kalau kamu sama laki-laki itu hidupmu nggak akan susah kaya gini, Ibumu takkan jadi tukang cuci dan kamu juga bisa beli apapun yang kamu inginkan. Laki-laki-laki itu menggandeng tanganku, bagai terhipnotis aku mengikuti langkahnya. Seakan tubuh terlepas dari roh, jiwaku melayang, bagai kapas terbang keangkasa, terasa ringan dan nikmat tak ada lagi beban. Tiba-tiba tergetar, rohku masuk kembali tersadar, tapi kenapa jutaan mata pengunjung Mal seakan menatap tajam kearahku dengan penuh kebencian? He! gadis Binal cari mangsa ya? , suasana Mal seolah mencekam. Dadaku sesak tapi mata-mata itu terus menatapku. Dasar cewek murahan, nggak tahu malu! Aku berteriak Ti......dak.......!.orang-orang sekeliling menoleh kearahku. Aku sangat malu dan secepat kilat aku berlari menuruni ekskalator, tetapi kakiku terpeleset tertelungkup dan tak seorangpun menolongku, badanku sakit semua. Aku melihat diriku jatuh, ternyata malam masih gelap dan fotoku masih terpampang manis di meja. Hidup takkan berhenti perjuangan masih terus berlanjut.(ono)

Tidak ada komentar: