Senin, September 29, 2008

BUBUTAN FC


Bubutan FC
Antara obsesi dan perpindahan pos

Sayang, dikala aku ingin membentuk tim futsal baru selain Ngajeni FC, aku harus pindah dari dunia kriminalitas yang menempa jiwaku selama ini. Karena itu, dengan terpaksa kuucapkan goodbye untuk tim Bubutan FC. Obsesi untuk membesarkan Bubutan FC pun urung kulakukan. Usaha untuk menyaingi Ngajeni FC dengan membentuk tim futsal baru kandas di tengah jalan. Am Sorry untuk Imam, Soim, Tri, yang aku tinggalkan. Aku terpaksa melepas ban kapten dan menanggalkan kostum 7 di Bubutan FC. Good luck untuk semuanya. Yang perlu diingat, kita pernah bersama dalam satu tim dan 'berkelahi' di rumput hijau. (*)

Rabu, September 24, 2008

GITA CINTA di SMU PT IV

BROKEN ARROW (Heart)

Jatuh cinta begitu indahnya. sebaliknya putus cinta begitu sakit rasanya. Jalinan kasih dan sayang antara aku dan Emy akhirnya kandas. Sebuah kata putus akhirnya terucap. usia kami yang saat itu belasan tahun, kemungkinan besar menjadi salah satu alasan. kami yang masih belia tidak mampu menahan diri. belum siap dengan segala pahitnya percintaan.ego kami berdua sama-sama besar. hingga akhirnya kami sama-sama broken heart.
meski berat, kami akhirnya sama-sama menyadari bahwa putus adalah jalan terbaik untuk membuat kami menjadi dewasa di kelak kemudian hari.
di ujung bel pulang sekolah, kami berdua tidak langsung pulang. menungggu teman-teman meninggalkan kelas satu persatu. meski kami coba tutupi, tapi kabar kami akan putus sudah sampai ke geng gosip yang selalu mengkhabarkan tentang masalah percintaan di sekolah kami. banyak yang menyayangkan keputusan kami. tapi banyak juga yang gembira. sebab, begitu kami putus, pasti banyak kesempatan bag cowok-cowok di sekolah yang akan mengejar-ngejar Emy. begitu juga sebaliknya (he...9).
cukup sulit bagi kami untuk saling mengucapkan kata putus. meski demikian, setengah jam kemudian suasana akhirnya cair ditengah kebekuan yang membisu. "Oke aku mau putus asalkan kamu janji ke aku bahwa kamu tidak akan melakukan hal-hal yang merugikan diri kamu," kata Emy kemudian. yang dimaksud Emy adalah, aku tidak akn tergiur lagi dengan kepulan rokok yang aku kenal sebelum akhirnya aku tinggalkan setelah jadian dengan Emy. "Baik, aku akan coba untuk melakukan itu," jawabku dengan suara parau.
setelah semuanya clear, kami melangkahkan kaki berdua mennggalkan bangku kelas. Emy kemudian memilih pulang bareng Erna, teman dekatnya. sedangkan aku, memilih memacu kencang motor Yamaha Fiz L 3777 LK di sepanjang jalan Balas Klumprik yang berkelok. sepanjang jalan desa yang termasuk desa tertinggal di Surabaya pada 1996 ini, tak henti-hentinya aku memaki diri sendiri. THE END (for now)

Sabtu, September 20, 2008

Gita Cinta di SMU PART III

NGEDATE ke TP

Tiga bulan sudah cinta bersemi di hati kami. sebulan itu aku belum berani mengajak Emy untuk ngedate ke luar. Takut ditolak dll. aku juga harus mengatur siasat. maklum, uang sakuku hanya Rp 5000/hari. Itu pun harus dipotong bensin satu liter. untuk jajan? wah bisa ngaplo. tapi namanya perjuangan memang harus disertai pengorbanan. seminggu sebelum mengajak Emy keluar, uang jajanku aku sisihkan. lumayan, sehari Rp 2.500. tapi efeknya luar biasa. temanku Irwan jadi uring-uringan, dia protes, kenapa setai istirahat aku selalu stanby di kelas. biasanya aku memang tidak tahan untuk langsung lari ke kantin. menyantap bakso Pak Man, bakso terenak sedunia. "Jatuh cinta sih jatuh cinta OY.tapi kalau sampai nggak makan bakso, sakno Pak Man," cerocos Irwan yang sering aku conteki ketika ulangan matematika ini. meski digojlok kanan-kiri, aku tak gentar. biarlah anjing mengongong asalkan tidak menggigit kakiku. pengorbananku tidak sia-sia.
pas pada hari H, uang yang terkumpul ditambah sisa-sisa kembalian sebanyak Rp 20.000, cukuplah untuk beli dua tiket bioskop. Sabtu malam pukul 18.30 aku sudah sampai di depan pintu rumah Emy. bukannya aku gugup melihat senyum manis Emy. bukan pula aku grogi menghadapi indahnya bola mata anak kedua dari tiga bersuadara ini. tapi, aku gugup ketika harus berpamitan dengan Ibunya. mengetahui kegugupanku, rupanya Ibu Emy ini benar-benar pengertian. "Boleh keluar asal balik sebelum pukul 22.30, ya," pinta wanita yang bak pinang dibelah dua dengan Emy ini. yes, aku melonjak kegirangan meski hanya dalam hati.
lima menit kemudian setelah mendorong motor dari gang Kedurus Pasar, Yamaha Fiz L 3777 LK, meluncur mulus di jalanan. tempat yang kutuju adalaah Tunjungan Plaza (TP). sebab, hanya tempat itu yang aku tahu...he9 ada bioskopnya (norak ya). Sampai di tempat yang dituju, lagi-lagi aku kebingungan. bingung memilih film. maklum, paginya aku nggak sempat baca koran. meski demikian, pandanganku langsung tertuju pada sebuah poster keren di studio II. Dua pria ganteng John Travolta dan Cristian Slater. "Nonton ini saja ya," pintaku. Emy pun langsung mangut-mangut tanda setuju. Sekitar dua jam nonton film, hangat pegangan tangan Emy membunuh dinginnya AC yang seolah tiada henti menembus jaket jinku. sayang...setelah aku pikir-pikir, kami ternyata nonton film yang salah. film yang kami tonton seolah merepresentasikan hubungan kami beberapa bulan kemudian. film apakah itu? yang benar nebaknya aku kasiha hadiah

Jumat, September 19, 2008

Gita Cinta di SMU

GITA CINTA SMU PART II
-------Susahnya First Date

Sudah seminggu sejak aku jadian sama Emy, hari-hariku berwarna-warni. tidak lagi hitam putih seperti gagahnya foto kakekku dengan cerutu kebangaannya. Sabtu siang sehabis mengantar Emy pulang, aku pacu motor pulang. sebab, aku janjian sama Emy bakal apel untuk kali pertama di rumahnya.
Sehabis makan siang, aku rebahkan tubuhku dan anganku langsung tertju pada senyum manis Emy ketika aku antar sampai gang rumahnya. "Hati-hati ya....," kata Emy dengan penuh sayang. Tiba-tiba saja lamunanku buyar, tatkala teman kampungku yang biasa dipanggil genduk berteriak-teriak,"Nono, Nono (nama penggilanku di kampung), tangi No...jam piro sak-iki," teriak gendut. Sedikit malas aku pandang jam di dinding, pukul 16.00. waktunya latihan bola di lapangan. sebab, Cak Pul, manajer bola kampung ingin mengikutkan tim Cahaya Muda Bringkang (CMB) untuk ikut turnamen di Benowo. Terbayang first date dengan Emy, aku nggak konsen sama sekali dengan latihan. Cak Pul pun teriak-teriak," No, mana finishing touch-e. masak di depanm gawang gak bisa gol," teriak Cak Pul uring-uringan.
Pukul 18.00 sehabis salat magrib, aku siap-siap berangkat apel. Ibuku yang tahu anak laki-lakinya berubah dari suka main kelereng berganti sering ngaca sempat nyindir. "Waduh ape nang endi rek," tanya wanita yang telah memberikan sehenap jiwannya sejak dalam kandungan ini penuh selidik. tanpa menjawan aku hanya tersenyum. Ibuku pun pasti tahu aku akan kemana. sebab, sejak seminggu ini dia rajin menjadi operator yang menjawab semua teleponku, tentunya lebih sering telepon dari Emy.
tepat setengah jam kemudian, aku sudah menyusuri pekatnya jalanan. langit malam itu ternyata tidak mau kompromi. pekat dan tidak memberikan kesempatan pada bintang untuk sekedar mengintip ke bawah.
apa yang kutakutkan benar-benar terjadi, baru separuh jalan, tiba-tiba langit menumpahkan air dengan lebatnya. tidak peduli bahwa aku baru saja habis-habisan dandan cakep. juga tidak peduli parfume Ibuku yang aku ambil dengan sembunyi-sembunyi. sejenak aku menyerah, aku terpaksa berhenti di tengah perjalanan untuk sekedar berteduh.
rupanya langit benar-benar marah malam itu. aiar seolah tiada berhenti. sudah satu jam setengah aku menunggu, hujan tiada reda. aku juga memaki pada alat komunikasi. andaikan di tahun 1996 HP sudah semurah 2008, tentunya aku dengan mudah SMS-an dengan Emy mengkabarkan keadaanku yang kedinginan di pos kambling kawasan Lidah Kulon.
Dua jam setengah hujan baru benar-benar reda. aku mel,ihat jam casio digital yang melingkar di tangan kananku. pukul 20.30, berarti aku harus ngebut supaya bisa tiba di rumah Emy kurang dari pukul 21.00. Sialannya lagi, di kawasan Karangan, jalan rusak berat dan dalam perbaikan. aku jadi tidak leluasa memacu motor Yamaha Fizku. Setelah bergulat dengan lumpur jalanan, akhirnya tiba juga aku di depan rumah Emy. Pohon blimbing di depan rumah menyambutku. Alhamdulillah, pintu rumah Emy belum dikunci. Berarti dia belum tidur. ketika aku sampai di depan pintu, perjuanganku selama dalam perjalanan terbayar lunas. senyum manis Emy seolah membuat sebagian jaket jinku yang basah mendadak kering. "Nekat ya....hujan-hujan maksa ke rumah," kata Emy dengan penuh makna. to be continued

Kamis, September 18, 2008

Gita Cinta di SMU


GITA CINTA SMU PART 1

suatu siang di 1996. di tengah2 pelajaran matematika yang membosankan. diantara shaf bangku ke dua dari selatan. bangku ketiga dari depan. tanpa sengaja, aku melihat kilatan sepasang mata indah bola pingpong. saat itu juga sepertinya dunia penuh warna. aku langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. ya..dialah gadis yang pertama kali mengisi hatiku ketika aku duduk di kelas 2 SMU. Emy, begitu nama panggilannya. gadis manis yang tinggal di kedurus gang pasar.
untuk menarik perhatiannya tentu tidak mudah. apalagi, saat itu banyak cowok juga kagum dengannya. apalagi setiap pulang sekolah, dia sudah ada yang mengantar pulang. makin tipis pula kesempatanku. tapi.... ternyata cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. diam-diam melalui temannya, Emy menitipkan salam. "O.Y (nama panggilanku ketika di SMU) kamu dapat salam dari Emy," kata Erna, teman dekat Emy yang saban hari berangkat sama-sama ke sekolah. mendengar itu, bakso Pak Man yang rasanya paling enak di kantin sekolahan menjadi seperti makanan basi yang enggan aku makan lagi. pelajaran matematika yang membosankan menjadi satu alasan untuk curi-curi pandang.
Tidak lama aku melakukan pendekatan. hingga akhirnya Emy bersedia menjadi pacarku. setiap pukul 13.30, aku nantikan Emi di pintu gerbang sekolah untuk pulang bareng. sepanjang gang Kebroan-Kedurus pasar menjadi saksi bisu perjalanan. aku memang sengaja memilih jalan pulang melalui gang-gang kecil. itu aku lakukan untuk bisa lebih berlama-lama berduan di atas jok motor Yamaha FIZ L 7773 LK. Bunyi kerasnya knalpot seolah sirna oleh sibakan poni rambut Emy. to be continue