Terkait Jaringan Internasional
Polwil Koordinasi dengan Instansi Terkait
SURABAYA-Lembaran Black Dollar yang diamankan petugas Sat Reskrim Polsek Mulyorejo hingga kemarin masih menyimpan misteri. Namu tentunya, hal itu tidak membuat jajaran Sat Reskrim Polwiltabes Surabaya berpangku tangan. Kepastian ini disampaikan langsung oleh Kapolwiltabes Surabaya Kombes Pol Anang Iskandar, Minggu (30/3). Menurut Anang, unit Reskrim gabungan dari Polwiltabes Surabaya memback-up secara khusus terkait penemuan Black Dollar. "Kami tidak menunjukan satu unit khusus. Melainkan gabugan dari beberapa unit untuk ikut terlibat langsung dalam penanganan kasus Black Dollar itu," urai Anang.
Walau tidak menjelaskan secara gamblang, kemana unit gabungan ini memburu dua warga Kamerun masing-masing Jeferson dan Andrea yang diduga kuat pelaku penipuan dengan menggunakan Black Dollar, namun Anang meyakinkan bahwa kasus tersebut menjadi atensi serius. Sebab, kata perwira dengan tiga melai di pundak ini, ada kemungkinan besar bahwa kasus Black Dollar terkait jaringan internasional. "Sudahlah, pokoknya kami ini sebagai komando Polres Surabaya Timur dalam kasus itu," jelas Anang. Mengenai kaitan dengan jaringan internasional, Anang tidak secara jelas menjelaskan jaringan mana. Yang pasti menurut Anang, pihaknya tengah berkoordinasi denga beberapa intansi terkait untuk mengungkap kasus Black Dollar yang menghebohkan ini.
Kalau ditelisik, kasus Black Dollar ini memang bukan sekedar kasus biasa. Sebab, kasus ini berhubungan dengan kejahatan informasi dan teknologi (IT). Oleh karena itu, sambug Anang, pelakunya pastilah orang yang pintar menggunakan kecanggihan teknologi, sehingga bisa membuat warga Indonesia percaya bahwa Black Dollar itu adalah semacam negatif film yang bila diberi cairan khusus akan berubah menjadi Dollar asli. Walau demikian, masih terbuka kemungkinan-kemungkinan lain terkait hal itu. Diantaranya, kemungkinan bahwa pelaku memang benar-benar ahli dalam hal pembuatan Black Dollar. Atau juga pelaku ahli dalam hal tipu-tipu. Pasalnya, dari informasi yang berhasil dihumpun RADAR Surabaya, aksi penipuan dengan menggunakan Black Dollar, pernah terjadi di Jakarta sebelumnya. Informasinya, banyak pejabat atau pun orang penting yang pernah tertipu dalam kasus ini. "Karena orang penting yang ditipu, maka kasusnya berlalu begitu saja. Sebab, si penipu telah membuat pejabat atau orang penting itu malu sehingga ia tidak mungkin melapor ke polisi," jelentreh seorang sumber terpercaya di kepolisian yang namanya enggan dikorankan.
Sumber menambahkan, aksi penipuan semacam ini seringkali dilakukan oleh orang Kamerun yang ada di Jakarta. Tapi tidak jelas Jakarta mana. Kabarnya, orang-orang kulit hitam ini membentuk semacam komunitas dan punya tempat untuk hang out. "Mereka berkumpul di rumah seorang warga negara Indonesia yang kawin dengan orang Kamerun," papar sumber. Tempat yang dimaksud adalah semacam pub atau café yang di dalamnya terdapat beberapa meja bilyar. Anehnya, warga sekitar lokasi tidak tahu kalau di lingkungan tinggalnya terdapat komunitas semacam itu. Karena itu, kemungkinan besar komunitas ini tinggal jauh atau pun terpencil dari pemukiman penduduk. Tapi masih mempunyai akses cepat ke jalan utama di Jakarta. Sayangnya, sumber tidak mau menjelaskan di Jakarta mana komunitas ini berada. (ono)
Blog ini tercipta untuk memenuhi unsur komunikasi manusia dengan manusia. Selebihnya didiskripsikan sendiri. Tapi, Blog ini tidak memuat unsur SARA. Mohon maaf jika ada kesamaan cerita, tempat dan waktu yang sebenarnya tidak disengaja. Namun kembali lagi Anda yang menilainya.
Minggu, Maret 30, 2008
Minggu, Maret 23, 2008
ME AND MOGE
Selasa, Maret 18, 2008
Highway Road
Highway Road
Perjalanan ke rumah Iyut mantan wartawan Surya saat dia nikah di bulan Maret 2007 lalu. Suatu perjalanan yang patut dikenang. Aku, Kardono, Majid, dan Olaf. Sepertinya aku merasakan kebebasan masa-masa SMAku dulu. Eh di Lamongan ternyata ada bakso yang cukup mak nyus. Karena itu, habis makan-makan kami foto2. Coba lihat foto Kardono (kacamata) asli gak beridiri di dekatku? Jawaban diposting di coment. Bagi yang berhasil nebak dapat hadiah menarik. Mau!
ME AND WIYOGO
Jumat, Maret 14, 2008
Kami Bukan Musuh Pedagang
Kasat Lantas Polwiltabes Soal Penertiban PKL di Surabaya
Kami Bukan Musuh Pedagang
Menertibkan pedagang kaki lima (PKL) ibarat mengurai benang kusut. Butuh waktu dan tenaga ekstra. Sebab, persoalan PKL sudah mencapai semua aspek dan mengakar. Salah satunya Jl Pandegiling yang sempat membuat polisi dan Sat Pol PP kewalahan. Namun itu tidak membuat Kasat Lantas Polwiltabes Surabaya AKBP M Iqbal patah arang. Sebab, menurut Iqbal, pihaknya hanya ingin mengembalikan fungsi jalan sebagai alat transportasi. Berikut petikan wawancara wartawan RADAR Surabaya dengan perwira kelahiran Palembang ini.
EKO YUDIONO, Surabaya
RS:Apa sebenarnya ide dasar untuk menertibkan PKL di Surabaya?
IQ:Ide dasarnya sebenarnya cukup sederhana, yaitu kami pihak kepolsian, khususnya Sat Lantas Polwiltabes Surabaya, hanya ingin mengembalikan fungsi jalan sebagaimana fungsinya, yaitu sebagai alat transportasi.
RS: Apakah hal ini dilakukan karena polisi menganggap pemerintah dalam hal ini Pemkot Surabaya kurang berani melakukan action nyata?
IQ:Sebenarnya bukannya Pemkot kurang action. Tapi secara institusi Pemkot ini low enforcement. Secara psikologis pedagang kurang mengubris Sat Pol PP yang biasanya mengobrak para PKL.
RS: Lantas, sejak kapan rencana penertiban di sejumlah pasar utamanya yang menganggu fungsi jalan ada?
IQ: sejak akhir 2007 lalu sebenarnya rencana itu sudah ada, tapi entah kenapa dalam perjalanannya terjadi tarik ulur. Karenanya, 2008 ini, kami polisi sebagai pelaksana teknis mengajukan ide kepada pemerintah kota untuk selekasnya melakukan penertiban terutama pada fungsi jalan. Dan ternyata langsung direspon.
RS: sejak kapan ide penertiban ini muncul?
IQ: Ide ini muncul sebenarnya dari pengamatan saja. Awal tahun 2007 ketika saya menjabat sebagai Kasat Lantas. Terus kami pelajari kenapa jalan yang seharusnya menjadi sarana transportasi kok bisa berfungsi sebagai pasar atau tempat berjualan. Sebab, undang-undang sudah mengatur jelas tentang fungsi jalan sebagai sarana transportasi, bukan sebagai tempat berjualan.
RS: Pematangan ide penertiban ini butuh waktu berapa lama?
IQ: Cukup singkat ya, kami polisi dan istansi terkait kemudian mengadakan rapat dan melakukan koordinasi. Setelah matang kami kemudian menggunakan sandi ‘Baya Kembar’ untuk pelaksanaan penertiban itu.
IQ: Rencananya, pasar mana saja yang akan ditertibkan?
RS: Ada beberapa pasar, diantaranya pasar Gembong tebasan, Kapasari, Jagir Wonokromo dan Keputran. Pandegiling sebanarnya tidak termasuk. Namun karena dinilai sebagai selektif prioritas, maka Pandegiling kami tertibkan lebih dulu.
RS: Seperti apa ?
IQ: Hal ini dasari dari hasil pengamatan di lapangan. Setiap pukul 15.00-24.00, Jl Pandegiling kok macet dan tidak bisa dilalui. Melihat itu, kami lantas mencoba melakukan pendekatan kepada para pedagang. Tolong dong dipindah dagangannya supaya tidak memenuhi jalan.
RS: Apa solusi awal saat itu?
IQ: Solusi awalnya, kami meminta supaya pedagang hanya berjualan mulai pukul 15.00-17.00. Dengan solusi itu pedagang mau. Lama kelamaan kami memberikan pengertian melalui sosialisai dengan cara menyebar pamflet dan brosur kepada para pedagang. Dalam brosur dan pamflet itu dijelaskan bahwa, jalan Pandegiling selanjutnya tidak boleh dipakai untuk jualan. Sosialisasi kami lakukan setiap waktu selama sebulan terakhir.
RS: Lantas apa sebenarnya sasaran yang ingin dicapai dalam penertiban PKL kali ini?
IQ: Otomatis sasaran yang ingin kami capai adalah semua jalan di Surabaya normal dan berfungsi sebagaimana mestinya. Muaranya adalah keselamatan pengguna jalan juga membuat Surabaya bersih aman dan kinclong. Sebab, Surabaya ini kota besar kedua setelah Jakarta lho. Jadi harus benar-benar dirawat dari segala aspek yang ada. Salah satunya ya pengembalian fungsi jalan agar tidak semrawut. Saat ini, ibaratnya para pedagang ini lupa. Nah sebagai sesama manusia kami wajib mengingatkan. Sebab, manusia itu, kalau tidak diingatkan terkadang lupa. Bahwasannya jalan bukan tempat untuk berjualan.
RS: Menurut polisi, apa kendala di lapangan dalam penertiban PKL di Surabaya ini?
IQ: Secara umum, kendala berarti itu sebenarnya tidak ada. Yang terpenting kami memberikan pengertian-pengertian. Bayangkan, sudah bertahun-tahun lho para PKL ini berjualan di Pandegiling. Dampaknya pun sangat luas, diantaranya lalu lintas macet, pencurian listrik dan lain-lain.
RS: Model pengamanan dan penertiban seperti apa yang polisi terapkan?
IQ: Kami tetap mengedepankan keselamatan dan menghindari jatuhnya korban. Kami mencoba meragkul para pedagang ini. Memang kadang-kadang para PKL ini belum mau dirangkul. Itulah tantangang kami bagaimana mengatasinya. Sebab, bagaimana pun juga kami, polisi adalah pelindung dan pengayom masyarakat. Kami bukanlah mush pedagang.
RS: Terkait persoalan PKL yang sudah mengakar dan mempunyai nilai historis. Bagaimana pendapat polisi?
IQ: Saya pribadi mendukung pasar-pasar tradisonal yang mempunyai nilai sejarah. Misalnya Pasar Turi, Kapasan, Blauran dan lain-lain. Tapi, kalau pasar itu mengotori dan menganggu fungsi jalan, ya harus ditertibkan dong.
RS: Terkait penertiban Pasar Pandegiling, apa solusi yang tepat untuk mengatasinya?
IQ: Pemerintah kota dalam hal ini PD Pasar Surya harus mampu mengakomodasi keinginan mereka. Pemkot juga harus mencipkan lahan yang tepat untuk menampung para pedagang ini.
RS: Terkait tudingan dari PKL yang merasa polisi terlalu berpihak pada beberapa pihak swasta dan pedagang merasa terjepit, apa pendapat polisi?
IQ: Tidak, tidak ada keberpihakan itu. Sebagai polisi, kami tidak pernah memihak siapa pun. Kami hanya menegakkan aturan dan menjalankan amanah undang-undang. Saya katakan, polisi ini ibarat dua sisi mata uang. Satu sisi ingin melindungi dan mengayomi masyarakat, sisi lainnya ingin menegakkan aturan yang ada.
RS: Pendapat Anda, polisi dalam hal ini apakah sudah berhasil menertibkan Pasar Pandegiling?
IQ: Saya rasa berhasil. Walau toh memang sempat terjadi ketegangan antara pedagang dan petugas. Kalau anda lihat, waktu itu saya mencoba menjadi penengah. Saya juga mohon kepada pedagang dan petugas supaya tidak terpancing emosinya. Hasilnya cukup berhasil setelah kami mengamankan empat orang provokator di lokasi.
RS: Terkait adanya sinyalmen bahwa keberhasilan petugas hanyalah keberhasilan semu. Sebab, dilain waktu pedagang akan kucing-kucingan lagi dengan petugas. Bagaimana pendapat Bapak?
IQ: Itu tergantung bagaimana petugas di lapangan. Khususnya polisi dan Sat Pol PP. Caranya, harus selalu diintensifkan pengawasan di lokasi agar tidak muncul lagi para pedagang yang memanfaatkan jalan untuk berjualan. Jadi harus cepat-cepat ditertibkan bila ada pedagang yang mencoba kembali menggelar dagangannya di lokasi. Jangan hanya menunggu pedagang bertambah banyak. (*)
Biodata:
Nama : M Iqbal
Tempat tanggal lahir: Palembang, 4 Juli 1970
Istri: Nindya
Anak:-Alma (10)
-Sulthan (3,5)
Riwayat pendidikan:
-SD Palembang (1992)
-SMP Palembang (1985)
-SMA Palembang (1988)
-Akademi kepolisian(akpol) (1991)
-Pendidikan spesialisasi lalu lintas di Belanda (1996)
-Perguruan tinggi ilmu kepolisian (PTIK) (2000)
-Sekolah staff pimpinan kepolisian (Sespimpol) (2005)
Riwayat jabatan:
-Pamapta Polresta Banjarmasin, Polda Kalselteng (1992)
-Wakasat Lantas Polresta Banjarmasin, Polda Kaltengsel (1993)
-Kasat Lantas Polres Kota Baru (1994)
-Guru Muda I Pusdik Lantas Polri Serpong, Tangerang (1996)
-Kasat Lantas Poltabes Pekanbaru (2000)
-Wakapolresta Dumai Polda Riau (2003)
-Koorspri Kapolda Riau (2004)
-Koorspri Kapolda Jatim (2005)
-Kasat Lantas Polwiltabes Surabaya (2007)
Cita-citanya jadi TNI
M Iqbal kecil sebenarnya bercita-cita menjadi anggota TNI. Namun ternyata dalam perkembangannya, Iqbal ternyata masuk menjadi anggota polisi. "Dalam tes ternyata saya lebih cocok bila menjadi anggota polisi," kata Iqbal.
Ia pun akhirnya benar-benar menjadi anggota polisi. Walau cita-citanya menjadi anggota TNI tidak terwujud namun Iqbal mengatakan, Allah SWT telah mengariskannya sebagai petugas pengayom dan pelindung masyarakat dalam korps baju coklat. Ini dibuktikan Iqbal ketika menjalani pendidikan. Baik itu di Akpol, PTIK dan Sespim. Iqbal selalu menduduki rangking 10 besar. Tak terasa Iqbal sudah menjadi anggota polisi sekitar 16 tahun lamanya. Karenanya, ia telah mendapatkan tanda jasa, Satya lencana dwijasista dan kesetiaan selama 16 tahun.
Lelaki yang hobi membaca dan diskusi ini mengatakan, walau tugasnya sehari-hari cukup menyita waktu dan tenaga, tapi di rumah ia adalah seorang Ayah biasa. "Selepas tugas, bisa berkumpul dengan anak-anak dan istri di rumah adalah suatu anugerah yang tak terkira," urai penyuka cofe late ini. Karena Iqbal lebih banyak di luar rumah, maka istrinya, selalu menjadi garda dalam mendidik anak sehari-hari. "Tapi setiap hari, komunikasi intens selalu kami lakukan melalui ponsel," papar lelaki yang genar nyemil ini.
Dalam mendidik anak, Iqbal dan Nindya (istri) menerapkan sistem keterbukaan dan demokratis. Sebab, menurut Iqbal, anak jaman sekarang tidak bisa terlalu dikekang atau diatur-atur. "Ibarat layang-layang, terkadang sekali waktu anak harus dilepaskan. Tapi kalau sudah terlalu jauh harus ditarik lagi dalam gengaman kuat," jelentreh penyuka olehraga tenis lapangan dan golf ini.
Selain itu, penanaman moral, aklag serta agama dan kesederhanaan adalah salah satu model pendidikan yang ia terapkan kepada dua buah hati tercinta Iqbal. Kata Iqbal, hal itu penting untuk menghadapi ketatnya persaingan yang begitu kompetitif di era yang akan datang.
"Saya sangat bersyukur mendapatkan seorang istri rumahan. Sehingga bisa menjaga, mendidik dan merawat anak-anak di rumah," ungkap Iqbal.
Saat weekend adalah hari yang paling dinanti Iqbal dan keluarganya. Sebab, menurut Iqbal, akhir pekan biasanya ia gunakan untuk keluarga. "Pagi harinya biasanya kami jogging sama-sama. Disitulah, biasanya anak-anak mengutarakan keinginan-keinginan dan ide-idenya," timpal Iqbal. Dari situ, Iqbal bersama istrinya akan mencoba mencari solusi terbaik sehingga dapat diterima dan dimengerti oleh anak-anaknya tanpa ada paksaan dan nggerundul di belakang hari. (*)
Kami Bukan Musuh Pedagang
Menertibkan pedagang kaki lima (PKL) ibarat mengurai benang kusut. Butuh waktu dan tenaga ekstra. Sebab, persoalan PKL sudah mencapai semua aspek dan mengakar. Salah satunya Jl Pandegiling yang sempat membuat polisi dan Sat Pol PP kewalahan. Namun itu tidak membuat Kasat Lantas Polwiltabes Surabaya AKBP M Iqbal patah arang. Sebab, menurut Iqbal, pihaknya hanya ingin mengembalikan fungsi jalan sebagai alat transportasi. Berikut petikan wawancara wartawan RADAR Surabaya dengan perwira kelahiran Palembang ini.
EKO YUDIONO, Surabaya
RS:Apa sebenarnya ide dasar untuk menertibkan PKL di Surabaya?
IQ:Ide dasarnya sebenarnya cukup sederhana, yaitu kami pihak kepolsian, khususnya Sat Lantas Polwiltabes Surabaya, hanya ingin mengembalikan fungsi jalan sebagaimana fungsinya, yaitu sebagai alat transportasi.
RS: Apakah hal ini dilakukan karena polisi menganggap pemerintah dalam hal ini Pemkot Surabaya kurang berani melakukan action nyata?
IQ:Sebenarnya bukannya Pemkot kurang action. Tapi secara institusi Pemkot ini low enforcement. Secara psikologis pedagang kurang mengubris Sat Pol PP yang biasanya mengobrak para PKL.
RS: Lantas, sejak kapan rencana penertiban di sejumlah pasar utamanya yang menganggu fungsi jalan ada?
IQ: sejak akhir 2007 lalu sebenarnya rencana itu sudah ada, tapi entah kenapa dalam perjalanannya terjadi tarik ulur. Karenanya, 2008 ini, kami polisi sebagai pelaksana teknis mengajukan ide kepada pemerintah kota untuk selekasnya melakukan penertiban terutama pada fungsi jalan. Dan ternyata langsung direspon.
RS: sejak kapan ide penertiban ini muncul?
IQ: Ide ini muncul sebenarnya dari pengamatan saja. Awal tahun 2007 ketika saya menjabat sebagai Kasat Lantas. Terus kami pelajari kenapa jalan yang seharusnya menjadi sarana transportasi kok bisa berfungsi sebagai pasar atau tempat berjualan. Sebab, undang-undang sudah mengatur jelas tentang fungsi jalan sebagai sarana transportasi, bukan sebagai tempat berjualan.
RS: Pematangan ide penertiban ini butuh waktu berapa lama?
IQ: Cukup singkat ya, kami polisi dan istansi terkait kemudian mengadakan rapat dan melakukan koordinasi. Setelah matang kami kemudian menggunakan sandi ‘Baya Kembar’ untuk pelaksanaan penertiban itu.
IQ: Rencananya, pasar mana saja yang akan ditertibkan?
RS: Ada beberapa pasar, diantaranya pasar Gembong tebasan, Kapasari, Jagir Wonokromo dan Keputran. Pandegiling sebanarnya tidak termasuk. Namun karena dinilai sebagai selektif prioritas, maka Pandegiling kami tertibkan lebih dulu.
RS: Seperti apa ?
IQ: Hal ini dasari dari hasil pengamatan di lapangan. Setiap pukul 15.00-24.00, Jl Pandegiling kok macet dan tidak bisa dilalui. Melihat itu, kami lantas mencoba melakukan pendekatan kepada para pedagang. Tolong dong dipindah dagangannya supaya tidak memenuhi jalan.
RS: Apa solusi awal saat itu?
IQ: Solusi awalnya, kami meminta supaya pedagang hanya berjualan mulai pukul 15.00-17.00. Dengan solusi itu pedagang mau. Lama kelamaan kami memberikan pengertian melalui sosialisai dengan cara menyebar pamflet dan brosur kepada para pedagang. Dalam brosur dan pamflet itu dijelaskan bahwa, jalan Pandegiling selanjutnya tidak boleh dipakai untuk jualan. Sosialisasi kami lakukan setiap waktu selama sebulan terakhir.
RS: Lantas apa sebenarnya sasaran yang ingin dicapai dalam penertiban PKL kali ini?
IQ: Otomatis sasaran yang ingin kami capai adalah semua jalan di Surabaya normal dan berfungsi sebagaimana mestinya. Muaranya adalah keselamatan pengguna jalan juga membuat Surabaya bersih aman dan kinclong. Sebab, Surabaya ini kota besar kedua setelah Jakarta lho. Jadi harus benar-benar dirawat dari segala aspek yang ada. Salah satunya ya pengembalian fungsi jalan agar tidak semrawut. Saat ini, ibaratnya para pedagang ini lupa. Nah sebagai sesama manusia kami wajib mengingatkan. Sebab, manusia itu, kalau tidak diingatkan terkadang lupa. Bahwasannya jalan bukan tempat untuk berjualan.
RS: Menurut polisi, apa kendala di lapangan dalam penertiban PKL di Surabaya ini?
IQ: Secara umum, kendala berarti itu sebenarnya tidak ada. Yang terpenting kami memberikan pengertian-pengertian. Bayangkan, sudah bertahun-tahun lho para PKL ini berjualan di Pandegiling. Dampaknya pun sangat luas, diantaranya lalu lintas macet, pencurian listrik dan lain-lain.
RS: Model pengamanan dan penertiban seperti apa yang polisi terapkan?
IQ: Kami tetap mengedepankan keselamatan dan menghindari jatuhnya korban. Kami mencoba meragkul para pedagang ini. Memang kadang-kadang para PKL ini belum mau dirangkul. Itulah tantangang kami bagaimana mengatasinya. Sebab, bagaimana pun juga kami, polisi adalah pelindung dan pengayom masyarakat. Kami bukanlah mush pedagang.
RS: Terkait persoalan PKL yang sudah mengakar dan mempunyai nilai historis. Bagaimana pendapat polisi?
IQ: Saya pribadi mendukung pasar-pasar tradisonal yang mempunyai nilai sejarah. Misalnya Pasar Turi, Kapasan, Blauran dan lain-lain. Tapi, kalau pasar itu mengotori dan menganggu fungsi jalan, ya harus ditertibkan dong.
RS: Terkait penertiban Pasar Pandegiling, apa solusi yang tepat untuk mengatasinya?
IQ: Pemerintah kota dalam hal ini PD Pasar Surya harus mampu mengakomodasi keinginan mereka. Pemkot juga harus mencipkan lahan yang tepat untuk menampung para pedagang ini.
RS: Terkait tudingan dari PKL yang merasa polisi terlalu berpihak pada beberapa pihak swasta dan pedagang merasa terjepit, apa pendapat polisi?
IQ: Tidak, tidak ada keberpihakan itu. Sebagai polisi, kami tidak pernah memihak siapa pun. Kami hanya menegakkan aturan dan menjalankan amanah undang-undang. Saya katakan, polisi ini ibarat dua sisi mata uang. Satu sisi ingin melindungi dan mengayomi masyarakat, sisi lainnya ingin menegakkan aturan yang ada.
RS: Pendapat Anda, polisi dalam hal ini apakah sudah berhasil menertibkan Pasar Pandegiling?
IQ: Saya rasa berhasil. Walau toh memang sempat terjadi ketegangan antara pedagang dan petugas. Kalau anda lihat, waktu itu saya mencoba menjadi penengah. Saya juga mohon kepada pedagang dan petugas supaya tidak terpancing emosinya. Hasilnya cukup berhasil setelah kami mengamankan empat orang provokator di lokasi.
RS: Terkait adanya sinyalmen bahwa keberhasilan petugas hanyalah keberhasilan semu. Sebab, dilain waktu pedagang akan kucing-kucingan lagi dengan petugas. Bagaimana pendapat Bapak?
IQ: Itu tergantung bagaimana petugas di lapangan. Khususnya polisi dan Sat Pol PP. Caranya, harus selalu diintensifkan pengawasan di lokasi agar tidak muncul lagi para pedagang yang memanfaatkan jalan untuk berjualan. Jadi harus cepat-cepat ditertibkan bila ada pedagang yang mencoba kembali menggelar dagangannya di lokasi. Jangan hanya menunggu pedagang bertambah banyak. (*)
Biodata:
Nama : M Iqbal
Tempat tanggal lahir: Palembang, 4 Juli 1970
Istri: Nindya
Anak:-Alma (10)
-Sulthan (3,5)
Riwayat pendidikan:
-SD Palembang (1992)
-SMP Palembang (1985)
-SMA Palembang (1988)
-Akademi kepolisian(akpol) (1991)
-Pendidikan spesialisasi lalu lintas di Belanda (1996)
-Perguruan tinggi ilmu kepolisian (PTIK) (2000)
-Sekolah staff pimpinan kepolisian (Sespimpol) (2005)
Riwayat jabatan:
-Pamapta Polresta Banjarmasin, Polda Kalselteng (1992)
-Wakasat Lantas Polresta Banjarmasin, Polda Kaltengsel (1993)
-Kasat Lantas Polres Kota Baru (1994)
-Guru Muda I Pusdik Lantas Polri Serpong, Tangerang (1996)
-Kasat Lantas Poltabes Pekanbaru (2000)
-Wakapolresta Dumai Polda Riau (2003)
-Koorspri Kapolda Riau (2004)
-Koorspri Kapolda Jatim (2005)
-Kasat Lantas Polwiltabes Surabaya (2007)
Cita-citanya jadi TNI
M Iqbal kecil sebenarnya bercita-cita menjadi anggota TNI. Namun ternyata dalam perkembangannya, Iqbal ternyata masuk menjadi anggota polisi. "Dalam tes ternyata saya lebih cocok bila menjadi anggota polisi," kata Iqbal.
Ia pun akhirnya benar-benar menjadi anggota polisi. Walau cita-citanya menjadi anggota TNI tidak terwujud namun Iqbal mengatakan, Allah SWT telah mengariskannya sebagai petugas pengayom dan pelindung masyarakat dalam korps baju coklat. Ini dibuktikan Iqbal ketika menjalani pendidikan. Baik itu di Akpol, PTIK dan Sespim. Iqbal selalu menduduki rangking 10 besar. Tak terasa Iqbal sudah menjadi anggota polisi sekitar 16 tahun lamanya. Karenanya, ia telah mendapatkan tanda jasa, Satya lencana dwijasista dan kesetiaan selama 16 tahun.
Lelaki yang hobi membaca dan diskusi ini mengatakan, walau tugasnya sehari-hari cukup menyita waktu dan tenaga, tapi di rumah ia adalah seorang Ayah biasa. "Selepas tugas, bisa berkumpul dengan anak-anak dan istri di rumah adalah suatu anugerah yang tak terkira," urai penyuka cofe late ini. Karena Iqbal lebih banyak di luar rumah, maka istrinya, selalu menjadi garda dalam mendidik anak sehari-hari. "Tapi setiap hari, komunikasi intens selalu kami lakukan melalui ponsel," papar lelaki yang genar nyemil ini.
Dalam mendidik anak, Iqbal dan Nindya (istri) menerapkan sistem keterbukaan dan demokratis. Sebab, menurut Iqbal, anak jaman sekarang tidak bisa terlalu dikekang atau diatur-atur. "Ibarat layang-layang, terkadang sekali waktu anak harus dilepaskan. Tapi kalau sudah terlalu jauh harus ditarik lagi dalam gengaman kuat," jelentreh penyuka olehraga tenis lapangan dan golf ini.
Selain itu, penanaman moral, aklag serta agama dan kesederhanaan adalah salah satu model pendidikan yang ia terapkan kepada dua buah hati tercinta Iqbal. Kata Iqbal, hal itu penting untuk menghadapi ketatnya persaingan yang begitu kompetitif di era yang akan datang.
"Saya sangat bersyukur mendapatkan seorang istri rumahan. Sehingga bisa menjaga, mendidik dan merawat anak-anak di rumah," ungkap Iqbal.
Saat weekend adalah hari yang paling dinanti Iqbal dan keluarganya. Sebab, menurut Iqbal, akhir pekan biasanya ia gunakan untuk keluarga. "Pagi harinya biasanya kami jogging sama-sama. Disitulah, biasanya anak-anak mengutarakan keinginan-keinginan dan ide-idenya," timpal Iqbal. Dari situ, Iqbal bersama istrinya akan mencoba mencari solusi terbaik sehingga dapat diterima dan dimengerti oleh anak-anaknya tanpa ada paksaan dan nggerundul di belakang hari. (*)
NGAJENI JUARA FUTSAL SIM-C

SEKILAS SPORT
-------------
Ngajeni FC Juara Turnamen SIM-C
SURABAYA.Tim Ngajeni FC (wartawan pokja kriminal dan hukum), akhirnya menjadi juara dalam turnamen futsal piala Saleh Ismail Mukadar Cup I (SIM-C). Dalam final yang digelar di stadion Brawijaya Surabaya, Ngajeni unggul 3-2 atas Siwo Pahlawan (wartawan Gubernur dan DPRD). Gol kemenangan Ngajeni FC dicetak oleh Pagon lima menit sebelum pertandingan berakhir.
Sebelumnya, sejak kick off, Ngajeni FC terus menggempur pertahanan Siwo Pahlawan. Hasilnya, 10 menit pertandingan berlangsung, Arif mencetak gol pertama bagi Ngajeni FC, setelah menerima umpan manis dari Kapten Ngajeni Eko Yudiono.
Di babak kedua, Ngajeni FC terus meningkatkan serangan. Tapi sayang, lewat serangan balik, Siwo Pahlawan bisa membalas melalui Koko (MNC). Bahkan, Siwo Pahlawan berbalik unggul 2-1 setelah Dodik (TV7) mencetak gol lewat tendangan jarak jauh.
Namun mental juara Ngajeni terbukti di lapangan. Didukung ratusan suporternya, Ngajeni bisa membalik keadaan di tujuh menit sebelum pertandingan berakhir. Setelah Rocky Makbal menyamakan kedudukan, akhirnya Pagon membuat Ngajeni FC unggul 3-2.
Ngajeni pun berhak atas hadiah utama Rp 4 juta, medali emas dan piala bergilir Saleh Ismail Mukadar.
Kebahagian Ngajeni semakin lengkap, sebab, Lempo gelandang energik Ngajeni menyabet pemain terbaik. Wartawan TV-0ne ini berhak atas uang Rp 500 ribu.
Kapten Ngajeni FC, Eko Yudiono mengatakan, pertandingan final hari ini adalah puncak dari kegigihan, kebersamaan dan kekompakan tim. Sebab, menurut wartawan RADAR Surabaya ini, Ngajeni tidak akan bisa jadi juara tanpa itu semua. "Terima kasih kepada semua yang telah mendukung Ngajeni FC, utamanya suporter yang hadir di lapangan. Karena merekalah kami juara," ungkap wartawan yang ngepos di Polwiltabes Surabaya ini.
Manajer Ngajeni FC, Makin Rahmat menambahkan, tim Ngajeni menang karena faktor kebersamaan yang kuat antara satu pemain dengan pemain lainnya. "Saya melihat di tim ini tidak ada yang egois. Semua ingin menang dan menang itu adalah untuk tim," pungkas wartawan senior harian Memorandum ini. (*)
-------------
Ngajeni FC Juara Turnamen SIM-C
SURABAYA.Tim Ngajeni FC (wartawan pokja kriminal dan hukum), akhirnya menjadi juara dalam turnamen futsal piala Saleh Ismail Mukadar Cup I (SIM-C). Dalam final yang digelar di stadion Brawijaya Surabaya, Ngajeni unggul 3-2 atas Siwo Pahlawan (wartawan Gubernur dan DPRD). Gol kemenangan Ngajeni FC dicetak oleh Pagon lima menit sebelum pertandingan berakhir.
Sebelumnya, sejak kick off, Ngajeni FC terus menggempur pertahanan Siwo Pahlawan. Hasilnya, 10 menit pertandingan berlangsung, Arif mencetak gol pertama bagi Ngajeni FC, setelah menerima umpan manis dari Kapten Ngajeni Eko Yudiono.
Di babak kedua, Ngajeni FC terus meningkatkan serangan. Tapi sayang, lewat serangan balik, Siwo Pahlawan bisa membalas melalui Koko (MNC). Bahkan, Siwo Pahlawan berbalik unggul 2-1 setelah Dodik (TV7) mencetak gol lewat tendangan jarak jauh.
Namun mental juara Ngajeni terbukti di lapangan. Didukung ratusan suporternya, Ngajeni bisa membalik keadaan di tujuh menit sebelum pertandingan berakhir. Setelah Rocky Makbal menyamakan kedudukan, akhirnya Pagon membuat Ngajeni FC unggul 3-2.
Ngajeni pun berhak atas hadiah utama Rp 4 juta, medali emas dan piala bergilir Saleh Ismail Mukadar.
Kebahagian Ngajeni semakin lengkap, sebab, Lempo gelandang energik Ngajeni menyabet pemain terbaik. Wartawan TV-0ne ini berhak atas uang Rp 500 ribu.
Kapten Ngajeni FC, Eko Yudiono mengatakan, pertandingan final hari ini adalah puncak dari kegigihan, kebersamaan dan kekompakan tim. Sebab, menurut wartawan RADAR Surabaya ini, Ngajeni tidak akan bisa jadi juara tanpa itu semua. "Terima kasih kepada semua yang telah mendukung Ngajeni FC, utamanya suporter yang hadir di lapangan. Karena merekalah kami juara," ungkap wartawan yang ngepos di Polwiltabes Surabaya ini.
Manajer Ngajeni FC, Makin Rahmat menambahkan, tim Ngajeni menang karena faktor kebersamaan yang kuat antara satu pemain dengan pemain lainnya. "Saya melihat di tim ini tidak ada yang egois. Semua ingin menang dan menang itu adalah untuk tim," pungkas wartawan senior harian Memorandum ini. (*)
Boks Anggota Narkoba
Kegiatan Positif yang Dilakukan Unit III Narkoba Polwiltabes Surabaya
Bentengi Anggota dengan Yasinta
Untuk mendukung kinerja anggota unit narkoba di lapangan, anggota Idik III mempunyai cara tersendiri. Salah satunya adalah pembinaan mental anggota. Karenanya, setiap Kamis malam, Idik III yang dipimpin AKP Totok Sumariyanto mengadakan Yasin dan Tahlil (Yasinta).
EKO YUDIONO, Surabaya
Aiptu Suryadi tampak lain dari biasaya, memakai kopyah hitam, ia terlihat duduk bersila. Tangannya memegang buku kecil berukuran 20X20 cm. Pandangannya terlihat fokus pada surat Yasin yang dibacanya. Bibirnya tampak komat-kamit membaca ayat-ayat suci.
Suryadi tidak sendirian, di sampingnya Bripka Heru Sun juga melakukan hal yang sama. Begitu juga dengan anggota narkoba yang berjumlah sepuluh orang. Mereka tampak khusyuk membaca buku Yasin di tangan masing-masing. Kegiatan Yasinta ini, dipimpin langsung oleh Kanit Idik III Polwiltabes Surabaya, AKP Totok Sumariyanto SH. Menurut Totok, kegiatan ini atas saran Kasat Narkoba AKBP Abi Darrin.
"Ini memang kegiatan rutin kami setiap malam Jumat," Kata Totok.
Menurut Totok, apa yang mereka lakukan adalah bagian dari pembinaan mental anggotanya. "Dengan kegiatan rutin ini, kami berharap agar anggota di lapangan tidak menemui kendala yang berarti selama bertugas," urai lelaki yang cukup religius ini. Selain itu, maksud dan tujuan diadakannya Yasinta, juga untuk membentengi diri anggota narkoba agar tidak terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba. Maklum, setiap hari anggota narkoba selalu bersentuhan langsung dengan berbagai jenis narkoba. diantaranya sabu-sabu, ineks, ganja atau pun obat-obatan terlarang lainya. "Karena setiap hari bersentuhan langsung dengan narkoba, maka resikonya tentu akan semakin besar untuk tergoda atau sekedar mencicipi," papar Totok. Untuk itulah, sambung Totok, siraman rohani berupa Yasita, rutin ia adakan. "Dengan kegiatan ini, kami berharap agar selalu ingat akan tugas kami sebenarnya," jelentreh Totok.
Totok bukan sekedar omong kosong. Sebab, efek kegiatan positif yang dilakukan Totok dan anak buahnya mempunyai dampak yang sangat besar. Diantaranya, berupa tangkapan spektakuler berhasil diraih Totok dan anak buahya, di penguhujung 2007. Yaitu tertangkapya aktor senior Roy Marten beserta badar gede (bede) narkoba A Hong. Selain itu, masih banyak lagi tangkapan besar sepanjang 2007 lalu, yang berasil diraih Totok dan anak buahnya. Terakhir, penggerebekan pabrik lotion dan jamu tak berijin di Jl Kapas Krampung. "Sebagai manusia, kami hanya bisa bekerja dan berdoa. Sukses tidaknya kerja kami, juga karena ridlo Alloh SWT semata," terang Totok. (*)
Bentengi Anggota dengan Yasinta
Untuk mendukung kinerja anggota unit narkoba di lapangan, anggota Idik III mempunyai cara tersendiri. Salah satunya adalah pembinaan mental anggota. Karenanya, setiap Kamis malam, Idik III yang dipimpin AKP Totok Sumariyanto mengadakan Yasin dan Tahlil (Yasinta).
EKO YUDIONO, Surabaya
Aiptu Suryadi tampak lain dari biasaya, memakai kopyah hitam, ia terlihat duduk bersila. Tangannya memegang buku kecil berukuran 20X20 cm. Pandangannya terlihat fokus pada surat Yasin yang dibacanya. Bibirnya tampak komat-kamit membaca ayat-ayat suci.
Suryadi tidak sendirian, di sampingnya Bripka Heru Sun juga melakukan hal yang sama. Begitu juga dengan anggota narkoba yang berjumlah sepuluh orang. Mereka tampak khusyuk membaca buku Yasin di tangan masing-masing. Kegiatan Yasinta ini, dipimpin langsung oleh Kanit Idik III Polwiltabes Surabaya, AKP Totok Sumariyanto SH. Menurut Totok, kegiatan ini atas saran Kasat Narkoba AKBP Abi Darrin.
"Ini memang kegiatan rutin kami setiap malam Jumat," Kata Totok.
Menurut Totok, apa yang mereka lakukan adalah bagian dari pembinaan mental anggotanya. "Dengan kegiatan rutin ini, kami berharap agar anggota di lapangan tidak menemui kendala yang berarti selama bertugas," urai lelaki yang cukup religius ini. Selain itu, maksud dan tujuan diadakannya Yasinta, juga untuk membentengi diri anggota narkoba agar tidak terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba. Maklum, setiap hari anggota narkoba selalu bersentuhan langsung dengan berbagai jenis narkoba. diantaranya sabu-sabu, ineks, ganja atau pun obat-obatan terlarang lainya. "Karena setiap hari bersentuhan langsung dengan narkoba, maka resikonya tentu akan semakin besar untuk tergoda atau sekedar mencicipi," papar Totok. Untuk itulah, sambung Totok, siraman rohani berupa Yasita, rutin ia adakan. "Dengan kegiatan ini, kami berharap agar selalu ingat akan tugas kami sebenarnya," jelentreh Totok.
Totok bukan sekedar omong kosong. Sebab, efek kegiatan positif yang dilakukan Totok dan anak buahnya mempunyai dampak yang sangat besar. Diantaranya, berupa tangkapan spektakuler berhasil diraih Totok dan anak buahya, di penguhujung 2007. Yaitu tertangkapya aktor senior Roy Marten beserta badar gede (bede) narkoba A Hong. Selain itu, masih banyak lagi tangkapan besar sepanjang 2007 lalu, yang berasil diraih Totok dan anak buahnya. Terakhir, penggerebekan pabrik lotion dan jamu tak berijin di Jl Kapas Krampung. "Sebagai manusia, kami hanya bisa bekerja dan berdoa. Sukses tidaknya kerja kami, juga karena ridlo Alloh SWT semata," terang Totok. (*)
SIAP NDAN

Siap Ndan
Kombes Pol Anang Iskandar
Berharap Lima Tahun
Pujian khusus dilontarkan oleh Kapolwiltabes Surabaya Kombes Pol Anang Iskandar, terkait RADAR Surabaya yang berulang tahun ke tujuh. Anang disela-sela acara jalan sehat mengatakan, sejak menjabat sebagai orang nomor satu di wilayah Polwiltabes Surabaya dua tahun lalu, ia memantau perkembangan RADAR Surabaya yang mempunyai jargon ‘koran kota besar’. Menurut Anang apa yang sudah disuguhkan Raya mampu menyerap apresiasi warga kota Surabaya. "RADAR Surabaya saya lihat sudah bisa menjadi jembatan penghubung antara masyarakat dengan pemerintah khususnya kota Surabaya," urai bapak lima anak ini.
Hal positif lainnya yaitu, setiap merayakan ulang tahunnya, Raya selalu mengadakan kegiatan positif. Diantaranya donor darah dan jalan sehat. "Acara ini bisa membuat pembaca koran ini khususnya, semakin dekat dan menyayangi koran kota besar ini," puji mantan Kapolres Metro Jakarta Timur ini.
Dalam kurun tujuh tahun usia Raya, Anang menilai apa yang sudah disuguhkan ke masyarakat sudah cukup baik dan berimbang. Dengan berkelakar, suami dari Budi Try Yuliarti ini mengatakan, berharap bisa ikut merayakan ulang tahun RADAR Surabaya, yang ke delapan, sembilan dan sepuluh. "Enak kan bisa menyaingi jabatan Pak Wawali Arif Afandi yang menjabat selama lima tahun," canda perwira kelahiran Mojokerto ini. Akhirnya Anang berharap agar RADAR Surabaya tetap jaya dan semakin kinclong. "Maju terus RADAR Surabaya," pungkasnya. (ono)
Kombes Pol Anang Iskandar
Berharap Lima Tahun
Pujian khusus dilontarkan oleh Kapolwiltabes Surabaya Kombes Pol Anang Iskandar, terkait RADAR Surabaya yang berulang tahun ke tujuh. Anang disela-sela acara jalan sehat mengatakan, sejak menjabat sebagai orang nomor satu di wilayah Polwiltabes Surabaya dua tahun lalu, ia memantau perkembangan RADAR Surabaya yang mempunyai jargon ‘koran kota besar’. Menurut Anang apa yang sudah disuguhkan Raya mampu menyerap apresiasi warga kota Surabaya. "RADAR Surabaya saya lihat sudah bisa menjadi jembatan penghubung antara masyarakat dengan pemerintah khususnya kota Surabaya," urai bapak lima anak ini.
Hal positif lainnya yaitu, setiap merayakan ulang tahunnya, Raya selalu mengadakan kegiatan positif. Diantaranya donor darah dan jalan sehat. "Acara ini bisa membuat pembaca koran ini khususnya, semakin dekat dan menyayangi koran kota besar ini," puji mantan Kapolres Metro Jakarta Timur ini.
Dalam kurun tujuh tahun usia Raya, Anang menilai apa yang sudah disuguhkan ke masyarakat sudah cukup baik dan berimbang. Dengan berkelakar, suami dari Budi Try Yuliarti ini mengatakan, berharap bisa ikut merayakan ulang tahun RADAR Surabaya, yang ke delapan, sembilan dan sepuluh. "Enak kan bisa menyaingi jabatan Pak Wawali Arif Afandi yang menjabat selama lima tahun," canda perwira kelahiran Mojokerto ini. Akhirnya Anang berharap agar RADAR Surabaya tetap jaya dan semakin kinclong. "Maju terus RADAR Surabaya," pungkasnya. (ono)
Rabu, Maret 12, 2008
Ordinary Day
BOBOR
Pukul 14.00, di ruang idik I Polwiltabes Surabaya. Aroma wangi menyebar dari sela-sela ac. wanginya ingatkanku akan aroma pedesaan Ngemplak. Sebuah tempat di mana sekitar 28 tahun lalu aku dilahirkan. Ngemplak terletak di kecamatan menganti-gresik.terletak sekitar 40 km dari Surabaya.
sebuah desa yang hingga kini masih terjaga keasriannya. dulu waktu aku masih SD, banyak sekali kenangan di desa ini. biasanya tiap akhir pekan, aku selalu menginap di rumah nenekku. baru minggu sore aku biasanya balik lagi ke rumah.
biasanya, kalau di rumah nenek, pagi-pagi sudah tercium aroma nasi goreng jawa dari dapur batu bata. aromanya sangat khas sebab disampingnya tepat kandang sapi.
setelah sarapan biasaya aku langsung diajak oleh kakek Setro (alm) untuk ke sawah. waktu itu lek Umar masih school di SMU Kedamean. bersamanya aku merasakan hari-hari indah masa kecil. lek Umar juga yang mengajari aku sebuah lagu yang aku anggap konyol bila dinyanyikan.
lagunya berjudul 'Tong-tong Makitong'.
-Tong-tong makitong-kitong adik satu masa sua
-Gulintong adek masa sua-apose masa sua-apose masa sua.
Lek umar juga yang mengajari aku lagu-lagu inggris yang cukup mudah dinyanyika untuk siswa kelas VI SD.
Lagunya, ah lupa!
kembali ke sawah ketika hari beranjak siang di musim hujan, biasanya digunaka untuk mencari yuyu(sejenis kepiting sawah) di sepanjang aliran kali Ngempal hingga Mojotengah.
kalau dapat satu ember kecil, biasanya kami pulang.
di rumah nenek Marlah (90) sudah siap di depan pintu. dengan senyumnya yang khas bak penari lenong, diambilnya ember itu.
yuyu kemudia ditumbuk menjadi satu. tidak lupa diberi bumbu yang sampai saat ini tetap dirahasiakan resepnya. setelah itu yuyu dicampur dengan dedak halus. setelah dimasak jadilah makaan yang biasa kami sebut 'bobor'. mungkin mengadopsi kata bubur dalam bahasa indonesia. makanan itu lalu kami santap beramai-ramai. ahhhh...segelas air dari kendi (teko dari tanah liat) mengalir mulus ke kerongkongan. terpuaskan sudah rasa lapar setelah seharian mencambuk sapi untuk mau mencurahka kerigatnya demi kesuburan tanah.(*)
Pukul 14.00, di ruang idik I Polwiltabes Surabaya. Aroma wangi menyebar dari sela-sela ac. wanginya ingatkanku akan aroma pedesaan Ngemplak. Sebuah tempat di mana sekitar 28 tahun lalu aku dilahirkan. Ngemplak terletak di kecamatan menganti-gresik.terletak sekitar 40 km dari Surabaya.
sebuah desa yang hingga kini masih terjaga keasriannya. dulu waktu aku masih SD, banyak sekali kenangan di desa ini. biasanya tiap akhir pekan, aku selalu menginap di rumah nenekku. baru minggu sore aku biasanya balik lagi ke rumah.
biasanya, kalau di rumah nenek, pagi-pagi sudah tercium aroma nasi goreng jawa dari dapur batu bata. aromanya sangat khas sebab disampingnya tepat kandang sapi.
setelah sarapan biasaya aku langsung diajak oleh kakek Setro (alm) untuk ke sawah. waktu itu lek Umar masih school di SMU Kedamean. bersamanya aku merasakan hari-hari indah masa kecil. lek Umar juga yang mengajari aku sebuah lagu yang aku anggap konyol bila dinyanyikan.
lagunya berjudul 'Tong-tong Makitong'.
-Tong-tong makitong-kitong adik satu masa sua
-Gulintong adek masa sua-apose masa sua-apose masa sua.
Lek umar juga yang mengajari aku lagu-lagu inggris yang cukup mudah dinyanyika untuk siswa kelas VI SD.
Lagunya, ah lupa!
kembali ke sawah ketika hari beranjak siang di musim hujan, biasanya digunaka untuk mencari yuyu(sejenis kepiting sawah) di sepanjang aliran kali Ngempal hingga Mojotengah.
kalau dapat satu ember kecil, biasanya kami pulang.
di rumah nenek Marlah (90) sudah siap di depan pintu. dengan senyumnya yang khas bak penari lenong, diambilnya ember itu.
yuyu kemudia ditumbuk menjadi satu. tidak lupa diberi bumbu yang sampai saat ini tetap dirahasiakan resepnya. setelah itu yuyu dicampur dengan dedak halus. setelah dimasak jadilah makaan yang biasa kami sebut 'bobor'. mungkin mengadopsi kata bubur dalam bahasa indonesia. makanan itu lalu kami santap beramai-ramai. ahhhh...segelas air dari kendi (teko dari tanah liat) mengalir mulus ke kerongkongan. terpuaskan sudah rasa lapar setelah seharian mencambuk sapi untuk mau mencurahka kerigatnya demi kesuburan tanah.(*)
Langganan:
Postingan (Atom)