
PUTUS CINTA (sepupuku)
Sepupuku beberapa hari lalu mengaku baru putus cinta dengan kekasihnya. Lima menit usai putus di teras rumah ditemani redupnya sinar bulan yang membias dari timur, Sepupuku (maaf tidak menyebut nama) terlihat mulai gelisah. Tingkahnya seperti cacing kepanasan. Pindah dari sofa, terus ke kamar, keluar lagi, lantas tiduran kembali di sofa. “Aduh Mbak….wetengku koq rasane gak enak kabeh,” kata Sepupuku kepada istriku.
Belum sempat mendapatkan jawaban, dia sudah ngacir ke kamar mandi. Tidak sampai satu menit dia keluar, entah apa yang ia lakukan di kamar mandi. Tapi tiba-tiba tangannya sudah meraih ponsel dan membuka situs jejaring sosial facebook. Dia lalu update status terbaru yang menyebutkan dia single lago mulai hari itu.
Hem…..melihat tingkah dan gaya sepupuku ini, aku jadi teringat semasa SMA dulu. Di mana, cinta atau pun apa namanya, seolah mampu meluluhlantakkan dunia. Menghancurkan sendi-sendi realita dan membuyarkan fakta yang ada di depan mata. “Aku putus cinta Mas,” ungkap sepupuku seolah ingin curhat dengan sepatah kata dan aku sendiri yang harus menerjemahkan panjang-lebar arti putus cinta itu sesungguhnya. Aku bahkan sempat bertanya dalam hati. Apakah putus cinta yang dialami sepupuku benar-benar sefenomenal itu. Apakah hanya perasaannya saja yang terlalu mendramatisir rasa itu. Atau kah dia terpengaruh sinetron cinta yang tayang di tv-tv swasta nasional. Ah entahlah…..yang jelas hingga hari ini, sepupuku yang lumayan manis dan kini serius di pendidikan kebidanan masih merasakan hal yang sama. Bahkan, setiap hari…statusnya seolah mencerminkan bahwa keputusannya untuk putus dengan kekasihnya adalah hal yang salah. Aku pun hanya bisa menawarkan kata-kata bijak kepadanya. Bahwa, sesungguhnya laki-laki dan perempuan di dunia ini sama banyaknya. Dan aku juga hanya bisa menawarkan untuk tidak berpacaran lagi. Lebih baik berkenalan saja dengan laki-laki tanpa dibumbuhi kata-kata pacaran. Dan dengan egoku juga (aku yakin benar) aku sebenarnya hendak mengenalkan dia dengan laki-laki sholeh, taat beribadah, dari keluarga baik-baik dan mempunyai pekerjaan tetap. (*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar