BOBOR
Pukul 14.00, di ruang idik I Polwiltabes Surabaya. Aroma wangi menyebar dari sela-sela ac. wanginya ingatkanku akan aroma pedesaan Ngemplak. Sebuah tempat di mana sekitar 28 tahun lalu aku dilahirkan. Ngemplak terletak di kecamatan menganti-gresik.terletak sekitar 40 km dari Surabaya.
sebuah desa yang hingga kini masih terjaga keasriannya. dulu waktu aku masih SD, banyak sekali kenangan di desa ini. biasanya tiap akhir pekan, aku selalu menginap di rumah nenekku. baru minggu sore aku biasanya balik lagi ke rumah.
biasanya, kalau di rumah nenek, pagi-pagi sudah tercium aroma nasi goreng jawa dari dapur batu bata. aromanya sangat khas sebab disampingnya tepat kandang sapi.
setelah sarapan biasaya aku langsung diajak oleh kakek Setro (alm) untuk ke sawah. waktu itu lek Umar masih school di SMU Kedamean. bersamanya aku merasakan hari-hari indah masa kecil. lek Umar juga yang mengajari aku sebuah lagu yang aku anggap konyol bila dinyanyikan.
lagunya berjudul 'Tong-tong Makitong'.
-Tong-tong makitong-kitong adik satu masa sua
-Gulintong adek masa sua-apose masa sua-apose masa sua.
Lek umar juga yang mengajari aku lagu-lagu inggris yang cukup mudah dinyanyika untuk siswa kelas VI SD.
Lagunya, ah lupa!
kembali ke sawah ketika hari beranjak siang di musim hujan, biasanya digunaka untuk mencari yuyu(sejenis kepiting sawah) di sepanjang aliran kali Ngempal hingga Mojotengah.
kalau dapat satu ember kecil, biasanya kami pulang.
di rumah nenek Marlah (90) sudah siap di depan pintu. dengan senyumnya yang khas bak penari lenong, diambilnya ember itu.
yuyu kemudia ditumbuk menjadi satu. tidak lupa diberi bumbu yang sampai saat ini tetap dirahasiakan resepnya. setelah itu yuyu dicampur dengan dedak halus. setelah dimasak jadilah makaan yang biasa kami sebut 'bobor'. mungkin mengadopsi kata bubur dalam bahasa indonesia. makanan itu lalu kami santap beramai-ramai. ahhhh...segelas air dari kendi (teko dari tanah liat) mengalir mulus ke kerongkongan. terpuaskan sudah rasa lapar setelah seharian mencambuk sapi untuk mau mencurahka kerigatnya demi kesuburan tanah.(*)
Pukul 14.00, di ruang idik I Polwiltabes Surabaya. Aroma wangi menyebar dari sela-sela ac. wanginya ingatkanku akan aroma pedesaan Ngemplak. Sebuah tempat di mana sekitar 28 tahun lalu aku dilahirkan. Ngemplak terletak di kecamatan menganti-gresik.terletak sekitar 40 km dari Surabaya.
sebuah desa yang hingga kini masih terjaga keasriannya. dulu waktu aku masih SD, banyak sekali kenangan di desa ini. biasanya tiap akhir pekan, aku selalu menginap di rumah nenekku. baru minggu sore aku biasanya balik lagi ke rumah.
biasanya, kalau di rumah nenek, pagi-pagi sudah tercium aroma nasi goreng jawa dari dapur batu bata. aromanya sangat khas sebab disampingnya tepat kandang sapi.
setelah sarapan biasaya aku langsung diajak oleh kakek Setro (alm) untuk ke sawah. waktu itu lek Umar masih school di SMU Kedamean. bersamanya aku merasakan hari-hari indah masa kecil. lek Umar juga yang mengajari aku sebuah lagu yang aku anggap konyol bila dinyanyikan.
lagunya berjudul 'Tong-tong Makitong'.
-Tong-tong makitong-kitong adik satu masa sua
-Gulintong adek masa sua-apose masa sua-apose masa sua.
Lek umar juga yang mengajari aku lagu-lagu inggris yang cukup mudah dinyanyika untuk siswa kelas VI SD.
Lagunya, ah lupa!
kembali ke sawah ketika hari beranjak siang di musim hujan, biasanya digunaka untuk mencari yuyu(sejenis kepiting sawah) di sepanjang aliran kali Ngempal hingga Mojotengah.
kalau dapat satu ember kecil, biasanya kami pulang.
di rumah nenek Marlah (90) sudah siap di depan pintu. dengan senyumnya yang khas bak penari lenong, diambilnya ember itu.
yuyu kemudia ditumbuk menjadi satu. tidak lupa diberi bumbu yang sampai saat ini tetap dirahasiakan resepnya. setelah itu yuyu dicampur dengan dedak halus. setelah dimasak jadilah makaan yang biasa kami sebut 'bobor'. mungkin mengadopsi kata bubur dalam bahasa indonesia. makanan itu lalu kami santap beramai-ramai. ahhhh...segelas air dari kendi (teko dari tanah liat) mengalir mulus ke kerongkongan. terpuaskan sudah rasa lapar setelah seharian mencambuk sapi untuk mau mencurahka kerigatnya demi kesuburan tanah.(*)