Rabu, Juni 17, 2009

LIMA TAHUN LALU

LIMA TAHUN LALU

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Perjalanan kehidupanku seolah begitu cepat. Lima tahun lalu, aku baru lulus dari sebuah perguruan tinggi swasta di kawasan Semolowaru. Usai lulus, aku sempat gamang menatap masa depan. Setahun berlalu, aku masih berkutat di depan meja sebuah dealer di kawasan Sidoarjo. Ah......wasting time. Tidak sengaja, aku membaca sebuah lowongan di sebuah media lokal Surabaya. DIBUTUHKAN WARTAWAN.
Saat itulah sebuah bohlam menyala terang di atas kepala...ting....ting...ting. Usai serangkaian test, akhirnya aku bisa menyebut diriku jurnalis. Menurut Wikipedia, Jurnalis= Orang yang mempraktekkan kegiatan jurnalist.
2006 adalah moment penting dalam hidupku.Aku sempat ragu, apakah benar aku akan menikah? Menikah dalam pandanganku adalah sebuah tanggung jawab besar bagi seorang pria. Paling tidak, aku tidak akan bisa bebas lagi....? Hem....sebuah pilihan yang harus benar-benar dipikirkan masak-masak.
Tapi, keputusan harus diambil. Aku harus menikah titik. (to be continue)

Rabu, Maret 18, 2009

Jupe Oh Jupe


TAKLUK: Gaston Castano bertekuk lutut di paha Jupe.

Julia Perez memang luar biasa. Pesonanya mampu membuat Gaston Castano bertekuk lutut. Pemain Persiba Balikpapan yang mengenakan nomor punggung 32 di klubnya ini, dibuat ketagihan dengan paha mulus Jupe. Dalam beberapa pose ‘nakal’ yang dirilis media online, Gaston tampak tidak berdaya dengan paha Jupe yang mengangkanginya.
Paha perempuan memang menjadi masalah tersendiri bagi kaum Adam.
Bahkan, sejak jaman Majapahit, paha wanita sudah menjadi semacam magnet sendiri bagi kaum pria. Tengok saja Ken Arok, begitu melihat paha mulus Ken Dedes, dengan keji dia membunuh Tunggul Ametung, suami sah Ken Dedes dengan keris Empu Gandring. Atas sumpah sang Resi, Ken Arok pun mati dengan keris itu serta tujuh anak turunannya. Bayangkan, hanya karena melihat paha, tujuh turunan harus mati karenanya. Saya tidak bisa membayangkan seandainya saat itu Ken Arok melihat lainnya? Hem…sulit untuk dibayangkan.
Kembali ke kasus Jupe, wanita seksi yang sempat diisukan waria ini bisa dibilang seringkali tampil berani. Akhir-akhir ini, wajah wanita kelahiran Jakarta,15 Juli 1980 bisa dikatakan setiap hari muncul di layar kaca. Hebatnya lagi, Jupe terlihat tidak terlalu sedih meski tertangkap basah kamera wartawan sedang beradegan hot dengan Gaston Castano. Dengan enteng dan tanpa beban, Jupe menganggap apa yang dia lakukan adalah untuk menghibur diri. “Kalau mantan suami saya bahagia, kenapa saya tidak,” kata Jupe yang mengaku sudah bercerai dengan suaminya itu. Bercerai tidaknya memang menjadi pertanyaan. Apakah dulu Jupe benar-benar sudah menikah dengan Damian Perez? Ataukah hanya kumpul kebo seperti yang dilakukan artis Andi Soraya dan Steve Emanuel beberapa waktu lalu. Hanya Jupe yang tahu. (*)

Senin, Maret 16, 2009

Antara Ketiak Carrisa Puteri dan Trauma SMA


Antara Ketiak Carrisa Puteri dan Trauma SMA

Siapa pun pasti setuju dengan saya saat ini. Kalau tidak, cobalah untuk setuju. Bahwa, ketiak Carrisa Puteri saat ini bisa dikatakan ketiak paling mulus se-Indonesia. Buktinya, di jalan-jalan protokol di Surabaya, dengan pedenya, pemeran Maria di film Ayat-Ayat Cinta ini memperlihatkan kelek mulusnya. Gadis kelahiran Frankfurt, Jerman, 12 September 1984 ini juga kerap muncul di layar kaca untuk mempromosikan produk deodorant yang katanya bisa menyingkirkan keringat berlebih dan tentunya bau badan ini.
Terus terang, saya salah satu pengagum Carrisa. Bukan lantaran dia menjadi ikon produk deodorant dan ketiaknya putih mulus saja. Melainkan, karena Carrisa terlihat natural ketika memerankan tokoh Maria di film garapan Hanung Bramantyo ini. Aktingnya pun masih terlihat alami ketika tampil di sinetron Rafika yang tayang di salah satu stasiun TV swasta nasional. Meski pun saya selaku fans beratnya kurang setuju Carrisa ikut-ikutan arus dengan bermain sinetron, tapi saya tetap menghargai keputusan cewek yang pernah dekat degan Fedi Nuril, lawan mainnya di film Ayat-Ayat Cinta.
Kembali ke ketiak mulusnya Carrisa. Saya memang termasuk fans berat ketiak mulus. Alasannya simple, di mata laki-laki, cewek harus tampil perfect, tak terkecuali masalah ketiak.
Alasan kedua, gara-gara ketiak, saya mempunyai kejadian yang membuat saya traumatik. Begini ceritanya, saat itu saya masih duduk di bangku SMA kelas II. Saat jam istirahat tiba, saking laparnya aku berlari menuju kantin sekolah. Tujuannya Cuma satu, menyantap bakso Pak Man. Bakso terenak sedunia. Saya pun langsung pesan satu mangkok. Setelah pesanan tiba, dengan lahapnya aku memasukkan bulatan penthol ke dalam mulut. Saat asyik menyuapkan penthol ke mulut, tiba-tiba, teman cewekny sekelasku datang menghampiri. Eh, dengan pedenya, dia mengangkat ketiaknya ketika mengikat rambut ekor kudanya. Huwek…..seketika penthol dalam mulutku berhamburan keluar ketika aku lihat rambut ketiak tumbuh dengan lebatnya.
Kejadian traumatik ini masih membekas hingga sekarang. Untungnya, saat ini, istriku rajin memelihara ketiaknya dengan produk yang diiklannya Carrisa Puteri. Meski pun hingga anakku berusia 1,7, peristiwa ini belum pernah aku ceritakan. Namun istriku sempat curiga kenapa aku memotret baliho iklan Carrisa Puteri dengan HP-ku. (*)

Selasa, Februari 24, 2009

LAGA PENUH EMOSIONAL


GO TO SEMIFINNAL: Kekompakan arek-arek Karang Gayam membuat wartawan peliput Persebaya ini menembus semifinal SIM CUP II.

LAGA PENUH EMOSIONAL
KARANG GAYAM 6 VS WANKUM 4
Karang Gayam FC harus bertemu Wankum/Ngajeni FC di babak perempet final Turnamen Saleh Ismail Mukadar Cup (SIM C) II. Hem....laga yang penuh emosional. Betapa tidak, diSIM C I, aku adalah kapten Ngajeni FC yang sekarang berganti nama menjadi Wankum. Memori indah jelas masih membekas di hati. Di mana saat itu, aku, pagon (Semeru FC), arif (Judes FC) dkk bahu-membahu dan mengantar Wankum menjadi Champion.
Sebelum kick off, perasaan dan hati tidak menentu. Aku makin gembira ketika Baud dan Kuntoro bermain duluan. melihat pertandingan dari balik jaring yang membatasi area lapangan futsal ole-ole dan aku memilih tidak banyak komentar. Tidak disangka, kubu Wankum yang kini banyak dihuni pemain muda tampil kesetanan. Karang Gayam bahkan sempat kebobolan dulu. Main gradakan, membuat skema main Karang Gayam tidak jalan. Bahkan, wartawan peliput Persebaya ini hampir saja malu. Beberapa detik jelang pertandingan usai, kami masih tertinggal satu gol. Beruntung arek Benjeng dengan tenang menyelesaikan bola yang dikirm dari 'langit'. Ya, just few second saja and game over, Mbah Heru melempar bola dan jatuh di kaki Ram. Dengan tenang, Bapak dari Ryan Noval ini menceploskan bola ke dalam gawang, mengecoh Sep, kiper Wankum. Gol ini sempat diprotes tim Wankum. Saking kerasnya protes, wasit terpaksa mengusir satu pemain Wankum keluar lapangan.
Pertandingan makin panas karena harus dilakukan babak extra time 2X5 menit.
Saat semua emosi, Baud menyuruhku masuk lapangan. Kematanganku di SIM C I lalu yang mengenakan ban kapten terbukti banyak berguna. Rekan-rekan aku suruh supaya main tenang dan tidak terbawa emosi.
Melalui ketenangan dan kematanganku mengirim umpan-umpan ciamik, Karang Gayam mengakhiri perlawanan Wankum 6-4. Benar-benar sebuah kemenangan yang dramatis di laga penuh emosional. Tapi bukan itu yang patut menjadi catatan penting. Its doesn't matter win or lose. Its just a game.
But... untuk pertama kalinya aku bermain melawan mantan tim yang pernah kubawa juara. tropi juara sempat kuangkat dan persembahkan sebagai torehan prestasi tertinggi di turnamen SIM CUP I. Saat kuangkat tropi itu tinggi-tinggi, sorak gempita memenuhi GOR Brawijaya, tempat digelarnya final, setahun lalu. Meski membawa Karang Gayam menggalahkan Wankum dan masuk semifinal, ada sedikit sisa emosi yang tertinggal.
Kata Aswin dan teman-teman, aku main setengah hati melawan mantan timku. Benarkah? ah entahlah. Yang pasti, dalam pertandingan kemarin, aku mencpba bersikap profesional. Profesional? Bahkan pemain kompetisi Divisi Utama dan Liga Super saja masih belum mengerti apa itu profesionalisme dalam dunia sepak bola.
Ah.... masih terlalu jauh untuk itu. Tapi, bukti asist matan sebanyak tiga kali dan semuanya berbuah gol, adalah suatu kepuasan tersendiri. Dua kali aku tidak sadar mendapatkan peluang emas yang tidak bisa menjadi gol. Well....selamat untuk tim Wankum, meski harus kalah. Tapi yakinlah, kalian kalah dengan terhormat. Sebab, harus kalah dengan tim calon juara, Karang Gayam. Jangan khawatir, Ngajeni FC/Wankum akan selalu menjadi bagian penting dalam sejarah hidupku. I LOVE YOU. MUCH LOVE KARANG GAYAM. Thanks.(*)

Kamis, Februari 12, 2009

KEMENANGAN YANG MEMBANGGAKAN


PESTA GOL:Aksi brilian Eko 'Farrelano' Yudiono yang melewati penjagaan Miftah dalam pertandingan kedua SIM CUP II. Karang Gayam memastikan lolos ke perempatfinal setelah menyikat tim KWG 14-2, kemarin. Foto by:Prast Imut


Bertabur Bintang tapi Tetap Solid
*Karang Gayam Lumat KWG 14-2

Dan……… kesempatan itu akhirnya datang juga. Mantan kapten Ngajeni FC, Eko ‘Farrelano’ Yudiono mendapatkan kesempatan posisi line up, kala Karang Gayam bersua dengan Komunitas Wartawan Gresik (KWG), di pertandingan kedua Turnamen futsal SIM Cup II. Tidak sia-sia, kepercayaan rekan-rekan dibayar lunas dengan mencetak 4 dari 14 gol yang dilesakkan ke gawang KWG.
Tapi bukan itu yang membuat bangga. Untuk pertama kalinya, tim Karang Gayam tampil solid. Bukan perkara banyaknya gol yang dibuat. Namun lebih kepada permainan cantik yang diperagakan arek-arek Siwo Karang Gayam di lapangan. Aliran bola lancar mengalir dari kaki ke kaki. Aswin ‘Kaka’ Rizal yang sebelumnya belum mencetak gol sama sekali, kemarin berhasil menyarangkan tiga gol ke gawang lawan. Begitu juga Ram Surahman. 4 gol berhasil dicetak arek Benjeng yang daerahnya di landa banjir beberapa waktu lalu itu. Tak ketinggalan aksi Kuntoro, Kiky, Fatkhul, Baud dan bahkan Dinar yang selalu minta arahan ketika bermain futsal tampil hampir tanpa cacat.
Kemenangan atas KWG memang sudah diprediksi sejak awal. Sebab, secara materi, tim yang dimanajeri Aries Wahyu ini kalah kelas dibanding tim Karang Gayam. Namun lebih dari itu, kemenangan kemarin mempunyai efek luar biasa. Bermaterikan pemain bintang, Karang Gayam sempat diprediksi bakal kesulitan menyatukan ego pemain. Tapi, prediksi itu meleset. Justru, berlebihnya skill para pemain dimanfaatkan benar untuk menuai kemenangan demi kemenangan. So, masihkah ada tim lawan yang berani melakukan psywar terhadap tim kami? Bukan bermaksud sombong atau jumawa, kemenangan kemarin makin mendekatkan Karang Gayam untuk mencapai target juara SIM CUP II. Semoga.(*)