Selasa, Februari 24, 2009

LAGA PENUH EMOSIONAL


GO TO SEMIFINNAL: Kekompakan arek-arek Karang Gayam membuat wartawan peliput Persebaya ini menembus semifinal SIM CUP II.

LAGA PENUH EMOSIONAL
KARANG GAYAM 6 VS WANKUM 4
Karang Gayam FC harus bertemu Wankum/Ngajeni FC di babak perempet final Turnamen Saleh Ismail Mukadar Cup (SIM C) II. Hem....laga yang penuh emosional. Betapa tidak, diSIM C I, aku adalah kapten Ngajeni FC yang sekarang berganti nama menjadi Wankum. Memori indah jelas masih membekas di hati. Di mana saat itu, aku, pagon (Semeru FC), arif (Judes FC) dkk bahu-membahu dan mengantar Wankum menjadi Champion.
Sebelum kick off, perasaan dan hati tidak menentu. Aku makin gembira ketika Baud dan Kuntoro bermain duluan. melihat pertandingan dari balik jaring yang membatasi area lapangan futsal ole-ole dan aku memilih tidak banyak komentar. Tidak disangka, kubu Wankum yang kini banyak dihuni pemain muda tampil kesetanan. Karang Gayam bahkan sempat kebobolan dulu. Main gradakan, membuat skema main Karang Gayam tidak jalan. Bahkan, wartawan peliput Persebaya ini hampir saja malu. Beberapa detik jelang pertandingan usai, kami masih tertinggal satu gol. Beruntung arek Benjeng dengan tenang menyelesaikan bola yang dikirm dari 'langit'. Ya, just few second saja and game over, Mbah Heru melempar bola dan jatuh di kaki Ram. Dengan tenang, Bapak dari Ryan Noval ini menceploskan bola ke dalam gawang, mengecoh Sep, kiper Wankum. Gol ini sempat diprotes tim Wankum. Saking kerasnya protes, wasit terpaksa mengusir satu pemain Wankum keluar lapangan.
Pertandingan makin panas karena harus dilakukan babak extra time 2X5 menit.
Saat semua emosi, Baud menyuruhku masuk lapangan. Kematanganku di SIM C I lalu yang mengenakan ban kapten terbukti banyak berguna. Rekan-rekan aku suruh supaya main tenang dan tidak terbawa emosi.
Melalui ketenangan dan kematanganku mengirim umpan-umpan ciamik, Karang Gayam mengakhiri perlawanan Wankum 6-4. Benar-benar sebuah kemenangan yang dramatis di laga penuh emosional. Tapi bukan itu yang patut menjadi catatan penting. Its doesn't matter win or lose. Its just a game.
But... untuk pertama kalinya aku bermain melawan mantan tim yang pernah kubawa juara. tropi juara sempat kuangkat dan persembahkan sebagai torehan prestasi tertinggi di turnamen SIM CUP I. Saat kuangkat tropi itu tinggi-tinggi, sorak gempita memenuhi GOR Brawijaya, tempat digelarnya final, setahun lalu. Meski membawa Karang Gayam menggalahkan Wankum dan masuk semifinal, ada sedikit sisa emosi yang tertinggal.
Kata Aswin dan teman-teman, aku main setengah hati melawan mantan timku. Benarkah? ah entahlah. Yang pasti, dalam pertandingan kemarin, aku mencpba bersikap profesional. Profesional? Bahkan pemain kompetisi Divisi Utama dan Liga Super saja masih belum mengerti apa itu profesionalisme dalam dunia sepak bola.
Ah.... masih terlalu jauh untuk itu. Tapi, bukti asist matan sebanyak tiga kali dan semuanya berbuah gol, adalah suatu kepuasan tersendiri. Dua kali aku tidak sadar mendapatkan peluang emas yang tidak bisa menjadi gol. Well....selamat untuk tim Wankum, meski harus kalah. Tapi yakinlah, kalian kalah dengan terhormat. Sebab, harus kalah dengan tim calon juara, Karang Gayam. Jangan khawatir, Ngajeni FC/Wankum akan selalu menjadi bagian penting dalam sejarah hidupku. I LOVE YOU. MUCH LOVE KARANG GAYAM. Thanks.(*)

Tidak ada komentar: