NGEDATE ke TP
Tiga bulan sudah cinta bersemi di hati kami. sebulan itu aku belum berani mengajak Emy untuk ngedate ke luar. Takut ditolak dll. aku juga harus mengatur siasat. maklum, uang sakuku hanya Rp 5000/hari. Itu pun harus dipotong bensin satu liter. untuk jajan? wah bisa ngaplo. tapi namanya perjuangan memang harus disertai pengorbanan. seminggu sebelum mengajak Emy keluar, uang jajanku aku sisihkan. lumayan, sehari Rp 2.500. tapi efeknya luar biasa. temanku Irwan jadi uring-uringan, dia protes, kenapa setai istirahat aku selalu stanby di kelas. biasanya aku memang tidak tahan untuk langsung lari ke kantin. menyantap bakso Pak Man, bakso terenak sedunia. "Jatuh cinta sih jatuh cinta OY.tapi kalau sampai nggak makan bakso, sakno Pak Man," cerocos Irwan yang sering aku conteki ketika ulangan matematika ini. meski digojlok kanan-kiri, aku tak gentar. biarlah anjing mengongong asalkan tidak menggigit kakiku. pengorbananku tidak sia-sia.
pas pada hari H, uang yang terkumpul ditambah sisa-sisa kembalian sebanyak Rp 20.000, cukuplah untuk beli dua tiket bioskop. Sabtu malam pukul 18.30 aku sudah sampai di depan pintu rumah Emy. bukannya aku gugup melihat senyum manis Emy. bukan pula aku grogi menghadapi indahnya bola mata anak kedua dari tiga bersuadara ini. tapi, aku gugup ketika harus berpamitan dengan Ibunya. mengetahui kegugupanku, rupanya Ibu Emy ini benar-benar pengertian. "Boleh keluar asal balik sebelum pukul 22.30, ya," pinta wanita yang bak pinang dibelah dua dengan Emy ini. yes, aku melonjak kegirangan meski hanya dalam hati.
lima menit kemudian setelah mendorong motor dari gang Kedurus Pasar, Yamaha Fiz L 3777 LK, meluncur mulus di jalanan. tempat yang kutuju adalaah Tunjungan Plaza (TP). sebab, hanya tempat itu yang aku tahu...he9 ada bioskopnya (norak ya). Sampai di tempat yang dituju, lagi-lagi aku kebingungan. bingung memilih film. maklum, paginya aku nggak sempat baca koran. meski demikian, pandanganku langsung tertuju pada sebuah poster keren di studio II. Dua pria ganteng John Travolta dan Cristian Slater. "Nonton ini saja ya," pintaku. Emy pun langsung mangut-mangut tanda setuju. Sekitar dua jam nonton film, hangat pegangan tangan Emy membunuh dinginnya AC yang seolah tiada henti menembus jaket jinku. sayang...setelah aku pikir-pikir, kami ternyata nonton film yang salah. film yang kami tonton seolah merepresentasikan hubungan kami beberapa bulan kemudian. film apakah itu? yang benar nebaknya aku kasiha hadiah
1 komentar:
bos aku tunggu cerita kamu ama ayun yang kini hendut itu. he...he..
Posting Komentar