GITA CINTA SMU PART II
-------Susahnya First Date
Sudah seminggu sejak aku jadian sama Emy, hari-hariku berwarna-warni. tidak lagi hitam putih seperti gagahnya foto kakekku dengan cerutu kebangaannya. Sabtu siang sehabis mengantar Emy pulang, aku pacu motor pulang. sebab, aku janjian sama Emy bakal apel untuk kali pertama di rumahnya.
Sehabis makan siang, aku rebahkan tubuhku dan anganku langsung tertju pada senyum manis Emy ketika aku antar sampai gang rumahnya. "Hati-hati ya....," kata Emy dengan penuh sayang. Tiba-tiba saja lamunanku buyar, tatkala teman kampungku yang biasa dipanggil genduk berteriak-teriak,"Nono, Nono (nama penggilanku di kampung), tangi No...jam piro sak-iki," teriak gendut. Sedikit malas aku pandang jam di dinding, pukul 16.00. waktunya latihan bola di lapangan. sebab, Cak Pul, manajer bola kampung ingin mengikutkan tim Cahaya Muda Bringkang (CMB) untuk ikut turnamen di Benowo. Terbayang first date dengan Emy, aku nggak konsen sama sekali dengan latihan. Cak Pul pun teriak-teriak," No, mana finishing touch-e. masak di depanm gawang gak bisa gol," teriak Cak Pul uring-uringan.
Pukul 18.00 sehabis salat magrib, aku siap-siap berangkat apel. Ibuku yang tahu anak laki-lakinya berubah dari suka main kelereng berganti sering ngaca sempat nyindir. "Waduh ape nang endi rek," tanya wanita yang telah memberikan sehenap jiwannya sejak dalam kandungan ini penuh selidik. tanpa menjawan aku hanya tersenyum. Ibuku pun pasti tahu aku akan kemana. sebab, sejak seminggu ini dia rajin menjadi operator yang menjawab semua teleponku, tentunya lebih sering telepon dari Emy.
tepat setengah jam kemudian, aku sudah menyusuri pekatnya jalanan. langit malam itu ternyata tidak mau kompromi. pekat dan tidak memberikan kesempatan pada bintang untuk sekedar mengintip ke bawah.
apa yang kutakutkan benar-benar terjadi, baru separuh jalan, tiba-tiba langit menumpahkan air dengan lebatnya. tidak peduli bahwa aku baru saja habis-habisan dandan cakep. juga tidak peduli parfume Ibuku yang aku ambil dengan sembunyi-sembunyi. sejenak aku menyerah, aku terpaksa berhenti di tengah perjalanan untuk sekedar berteduh.
rupanya langit benar-benar marah malam itu. aiar seolah tiada berhenti. sudah satu jam setengah aku menunggu, hujan tiada reda. aku juga memaki pada alat komunikasi. andaikan di tahun 1996 HP sudah semurah 2008, tentunya aku dengan mudah SMS-an dengan Emy mengkabarkan keadaanku yang kedinginan di pos kambling kawasan Lidah Kulon.
Dua jam setengah hujan baru benar-benar reda. aku mel,ihat jam casio digital yang melingkar di tangan kananku. pukul 20.30, berarti aku harus ngebut supaya bisa tiba di rumah Emy kurang dari pukul 21.00. Sialannya lagi, di kawasan Karangan, jalan rusak berat dan dalam perbaikan. aku jadi tidak leluasa memacu motor Yamaha Fizku. Setelah bergulat dengan lumpur jalanan, akhirnya tiba juga aku di depan rumah Emy. Pohon blimbing di depan rumah menyambutku. Alhamdulillah, pintu rumah Emy belum dikunci. Berarti dia belum tidur. ketika aku sampai di depan pintu, perjuanganku selama dalam perjalanan terbayar lunas. senyum manis Emy seolah membuat sebagian jaket jinku yang basah mendadak kering. "Nekat ya....hujan-hujan maksa ke rumah," kata Emy dengan penuh makna. to be continued
Tidak ada komentar:
Posting Komentar