Jumat, Maret 14, 2008

Kami Bukan Musuh Pedagang


Kasat Lantas Polwiltabes Soal Penertiban PKL di Surabaya
Kami Bukan Musuh Pedagang

Menertibkan pedagang kaki lima (PKL) ibarat mengurai benang kusut. Butuh waktu dan tenaga ekstra. Sebab, persoalan PKL sudah mencapai semua aspek dan mengakar. Salah satunya Jl Pandegiling yang sempat membuat polisi dan Sat Pol PP kewalahan. Namun itu tidak membuat Kasat Lantas Polwiltabes Surabaya AKBP M Iqbal patah arang. Sebab, menurut Iqbal, pihaknya hanya ingin mengembalikan fungsi jalan sebagai alat transportasi. Berikut petikan wawancara wartawan RADAR Surabaya dengan perwira kelahiran Palembang ini.

EKO YUDIONO, Surabaya

RS:Apa sebenarnya ide dasar untuk menertibkan PKL di Surabaya?
IQ:Ide dasarnya sebenarnya cukup sederhana, yaitu kami pihak kepolsian, khususnya Sat Lantas Polwiltabes Surabaya, hanya ingin mengembalikan fungsi jalan sebagaimana fungsinya, yaitu sebagai alat transportasi.
RS: Apakah hal ini dilakukan karena polisi menganggap pemerintah dalam hal ini Pemkot Surabaya kurang berani melakukan action nyata?
IQ:Sebenarnya bukannya Pemkot kurang action. Tapi secara institusi Pemkot ini low enforcement. Secara psikologis pedagang kurang mengubris Sat Pol PP yang biasanya mengobrak para PKL.
RS: Lantas, sejak kapan rencana penertiban di sejumlah pasar utamanya yang menganggu fungsi jalan ada?
IQ: sejak akhir 2007 lalu sebenarnya rencana itu sudah ada, tapi entah kenapa dalam perjalanannya terjadi tarik ulur. Karenanya, 2008 ini, kami polisi sebagai pelaksana teknis mengajukan ide kepada pemerintah kota untuk selekasnya melakukan penertiban terutama pada fungsi jalan. Dan ternyata langsung direspon.
RS: sejak kapan ide penertiban ini muncul?
IQ: Ide ini muncul sebenarnya dari pengamatan saja. Awal tahun 2007 ketika saya menjabat sebagai Kasat Lantas. Terus kami pelajari kenapa jalan yang seharusnya menjadi sarana transportasi kok bisa berfungsi sebagai pasar atau tempat berjualan. Sebab, undang-undang sudah mengatur jelas tentang fungsi jalan sebagai sarana transportasi, bukan sebagai tempat berjualan.
RS: Pematangan ide penertiban ini butuh waktu berapa lama?
IQ: Cukup singkat ya, kami polisi dan istansi terkait kemudian mengadakan rapat dan melakukan koordinasi. Setelah matang kami kemudian menggunakan sandi ‘Baya Kembar’ untuk pelaksanaan penertiban itu.
IQ: Rencananya, pasar mana saja yang akan ditertibkan?
RS: Ada beberapa pasar, diantaranya pasar Gembong tebasan, Kapasari, Jagir Wonokromo dan Keputran. Pandegiling sebanarnya tidak termasuk. Namun karena dinilai sebagai selektif prioritas, maka Pandegiling kami tertibkan lebih dulu.
RS: Seperti apa ?
IQ: Hal ini dasari dari hasil pengamatan di lapangan. Setiap pukul 15.00-24.00, Jl Pandegiling kok macet dan tidak bisa dilalui. Melihat itu, kami lantas mencoba melakukan pendekatan kepada para pedagang. Tolong dong dipindah dagangannya supaya tidak memenuhi jalan.
RS: Apa solusi awal saat itu?
IQ: Solusi awalnya, kami meminta supaya pedagang hanya berjualan mulai pukul 15.00-17.00. Dengan solusi itu pedagang mau. Lama kelamaan kami memberikan pengertian melalui sosialisai dengan cara menyebar pamflet dan brosur kepada para pedagang. Dalam brosur dan pamflet itu dijelaskan bahwa, jalan Pandegiling selanjutnya tidak boleh dipakai untuk jualan. Sosialisasi kami lakukan setiap waktu selama sebulan terakhir.
RS: Lantas apa sebenarnya sasaran yang ingin dicapai dalam penertiban PKL kali ini?
IQ: Otomatis sasaran yang ingin kami capai adalah semua jalan di Surabaya normal dan berfungsi sebagaimana mestinya. Muaranya adalah keselamatan pengguna jalan juga membuat Surabaya bersih aman dan kinclong. Sebab, Surabaya ini kota besar kedua setelah Jakarta lho. Jadi harus benar-benar dirawat dari segala aspek yang ada. Salah satunya ya pengembalian fungsi jalan agar tidak semrawut. Saat ini, ibaratnya para pedagang ini lupa. Nah sebagai sesama manusia kami wajib mengingatkan. Sebab, manusia itu, kalau tidak diingatkan terkadang lupa. Bahwasannya jalan bukan tempat untuk berjualan.
RS: Menurut polisi, apa kendala di lapangan dalam penertiban PKL di Surabaya ini?
IQ: Secara umum, kendala berarti itu sebenarnya tidak ada. Yang terpenting kami memberikan pengertian-pengertian. Bayangkan, sudah bertahun-tahun lho para PKL ini berjualan di Pandegiling. Dampaknya pun sangat luas, diantaranya lalu lintas macet, pencurian listrik dan lain-lain.
RS: Model pengamanan dan penertiban seperti apa yang polisi terapkan?
IQ: Kami tetap mengedepankan keselamatan dan menghindari jatuhnya korban. Kami mencoba meragkul para pedagang ini. Memang kadang-kadang para PKL ini belum mau dirangkul. Itulah tantangang kami bagaimana mengatasinya. Sebab, bagaimana pun juga kami, polisi adalah pelindung dan pengayom masyarakat. Kami bukanlah mush pedagang.
RS: Terkait persoalan PKL yang sudah mengakar dan mempunyai nilai historis. Bagaimana pendapat polisi?
IQ: Saya pribadi mendukung pasar-pasar tradisonal yang mempunyai nilai sejarah. Misalnya Pasar Turi, Kapasan, Blauran dan lain-lain. Tapi, kalau pasar itu mengotori dan menganggu fungsi jalan, ya harus ditertibkan dong.
RS: Terkait penertiban Pasar Pandegiling, apa solusi yang tepat untuk mengatasinya?
IQ: Pemerintah kota dalam hal ini PD Pasar Surya harus mampu mengakomodasi keinginan mereka. Pemkot juga harus mencipkan lahan yang tepat untuk menampung para pedagang ini.
RS: Terkait tudingan dari PKL yang merasa polisi terlalu berpihak pada beberapa pihak swasta dan pedagang merasa terjepit, apa pendapat polisi?
IQ: Tidak, tidak ada keberpihakan itu. Sebagai polisi, kami tidak pernah memihak siapa pun. Kami hanya menegakkan aturan dan menjalankan amanah undang-undang. Saya katakan, polisi ini ibarat dua sisi mata uang. Satu sisi ingin melindungi dan mengayomi masyarakat, sisi lainnya ingin menegakkan aturan yang ada.
RS: Pendapat Anda, polisi dalam hal ini apakah sudah berhasil menertibkan Pasar Pandegiling?
IQ: Saya rasa berhasil. Walau toh memang sempat terjadi ketegangan antara pedagang dan petugas. Kalau anda lihat, waktu itu saya mencoba menjadi penengah. Saya juga mohon kepada pedagang dan petugas supaya tidak terpancing emosinya. Hasilnya cukup berhasil setelah kami mengamankan empat orang provokator di lokasi.
RS: Terkait adanya sinyalmen bahwa keberhasilan petugas hanyalah keberhasilan semu. Sebab, dilain waktu pedagang akan kucing-kucingan lagi dengan petugas. Bagaimana pendapat Bapak?
IQ: Itu tergantung bagaimana petugas di lapangan. Khususnya polisi dan Sat Pol PP. Caranya, harus selalu diintensifkan pengawasan di lokasi agar tidak muncul lagi para pedagang yang memanfaatkan jalan untuk berjualan. Jadi harus cepat-cepat ditertibkan bila ada pedagang yang mencoba kembali menggelar dagangannya di lokasi. Jangan hanya menunggu pedagang bertambah banyak. (*)
Biodata:
Nama : M Iqbal
Tempat tanggal lahir: Palembang, 4 Juli 1970
Istri: Nindya
Anak:-Alma (10)
-Sulthan (3,5)
Riwayat pendidikan:
-SD Palembang (1992)
-SMP Palembang (1985)
-SMA Palembang (1988)
-Akademi kepolisian(akpol) (1991)
-Pendidikan spesialisasi lalu lintas di Belanda (1996)
-Perguruan tinggi ilmu kepolisian (PTIK) (2000)
-Sekolah staff pimpinan kepolisian (Sespimpol) (2005)
Riwayat jabatan:
-Pamapta Polresta Banjarmasin, Polda Kalselteng (1992)
-Wakasat Lantas Polresta Banjarmasin, Polda Kaltengsel (1993)
-Kasat Lantas Polres Kota Baru (1994)
-Guru Muda I Pusdik Lantas Polri Serpong, Tangerang (1996)
-Kasat Lantas Poltabes Pekanbaru (2000)
-Wakapolresta Dumai Polda Riau (2003)
-Koorspri Kapolda Riau (2004)
-Koorspri Kapolda Jatim (2005)
-Kasat Lantas Polwiltabes Surabaya (2007)
Cita-citanya jadi TNI
M Iqbal kecil sebenarnya bercita-cita menjadi anggota TNI. Namun ternyata dalam perkembangannya, Iqbal ternyata masuk menjadi anggota polisi. "Dalam tes ternyata saya lebih cocok bila menjadi anggota polisi," kata Iqbal.
Ia pun akhirnya benar-benar menjadi anggota polisi. Walau cita-citanya menjadi anggota TNI tidak terwujud namun Iqbal mengatakan, Allah SWT telah mengariskannya sebagai petugas pengayom dan pelindung masyarakat dalam korps baju coklat. Ini dibuktikan Iqbal ketika menjalani pendidikan. Baik itu di Akpol, PTIK dan Sespim. Iqbal selalu menduduki rangking 10 besar. Tak terasa Iqbal sudah menjadi anggota polisi sekitar 16 tahun lamanya. Karenanya, ia telah mendapatkan tanda jasa, Satya lencana dwijasista dan kesetiaan selama 16 tahun.
Lelaki yang hobi membaca dan diskusi ini mengatakan, walau tugasnya sehari-hari cukup menyita waktu dan tenaga, tapi di rumah ia adalah seorang Ayah biasa. "Selepas tugas, bisa berkumpul dengan anak-anak dan istri di rumah adalah suatu anugerah yang tak terkira," urai penyuka cofe late ini. Karena Iqbal lebih banyak di luar rumah, maka istrinya, selalu menjadi garda dalam mendidik anak sehari-hari. "Tapi setiap hari, komunikasi intens selalu kami lakukan melalui ponsel," papar lelaki yang genar nyemil ini.
Dalam mendidik anak, Iqbal dan Nindya (istri) menerapkan sistem keterbukaan dan demokratis. Sebab, menurut Iqbal, anak jaman sekarang tidak bisa terlalu dikekang atau diatur-atur. "Ibarat layang-layang, terkadang sekali waktu anak harus dilepaskan. Tapi kalau sudah terlalu jauh harus ditarik lagi dalam gengaman kuat," jelentreh penyuka olehraga tenis lapangan dan golf ini.
Selain itu, penanaman moral, aklag serta agama dan kesederhanaan adalah salah satu model pendidikan yang ia terapkan kepada dua buah hati tercinta Iqbal. Kata Iqbal, hal itu penting untuk menghadapi ketatnya persaingan yang begitu kompetitif di era yang akan datang.
"Saya sangat bersyukur mendapatkan seorang istri rumahan. Sehingga bisa menjaga, mendidik dan merawat anak-anak di rumah," ungkap Iqbal.
Saat weekend adalah hari yang paling dinanti Iqbal dan keluarganya. Sebab, menurut Iqbal, akhir pekan biasanya ia gunakan untuk keluarga. "Pagi harinya biasanya kami jogging sama-sama. Disitulah, biasanya anak-anak mengutarakan keinginan-keinginan dan ide-idenya," timpal Iqbal. Dari situ, Iqbal bersama istrinya akan mencoba mencari solusi terbaik sehingga dapat diterima dan dimengerti oleh anak-anaknya tanpa ada paksaan dan nggerundul di belakang hari. (*)

Tidak ada komentar: