
Cerpen:
Cerita ini hanya fiktif belaka. bila ada nama tempat, kejadian, orang yang mirip dengan cerita ini, adalah sebuah kebetulan belaka. bukan disengaja
Rasa yang Tertinggal Part One
Setiap melewati Balai Pemuda, hati Romi selalu berdegup keras. Tak terkecuali hari ini, Romi akhirnya memutuskan untuk berhenti sejenak di sisi kiri lokasi yang sering digunakan untuk berbagai ajang festival seni Surabaya ini. Setelah meminggirkan motornya, angan Romi langsung melambung. Menembus lorong waktu, sekitar tiga tahun silam.
Kala itu, Romi baru saja lulus kuliah. Ambisinya untuk bekerja di kota besar macam Surabaya, akhirnya terwujud. Meski hanya bekerja di sebuah perusahaan kecil, Romi tidak putus asa. Dia tetap tekun menjalani hari-harinya. Sebab, Romi sangat bersyukur bisa bekerja di sebuah perkantoran yang memang merupakan cita-citanya sejak masih duduk di bangku SMA.
Di kantor ekspedisi itulah, Romi berkenalan dengan seorang gadis ayu. Shinta, begitu dia biasa dipanggil. Lulusan sebuah sekolah tinggi di kota dingin Malang ini, juga baru memulai karirnya, usai menyelesaikan studinya. Sejak berkenalan di kantin kantor, Romi sudah merasakan klik dengan anak pengusaha tambak di Sidoarjo ini.
Sebenarnya, hidup Shinta sudah termasuk berkecukupan. Tanpa bekerja pun, dia bisa hidup enak. Apalagi, dia merupakan anak tunggal. Namun, dia memang seorang perempuan mandiri dan sederhana. Sebab, meski di garasi rumahnya terdapat dua mobil keluaran terbaru dari pabrikan Jepang, tapi Shinta tetap ke kantor menggunakan motor. Katanya, lebih enak naik motor, bisa zig-zag di jalan.
Setelah dua bulan pendekatan, kami akhirnya jadian. Shinta memutuskan untuk keluar dari kantor dengan alasan ingin bekerja di tempat yang lebih menantang. Meski dia tidak lagi sekantor denganku, tapi itu tidak menjadi masalah. Sebab, benang-benang asmara kami sudah terjalin erat.
Seperti layaknya dua orang yang dimabuk asmara, hari-hari kami isi dengan penuh cinta. Shinta yang hobinya nonton teater, membuat aku harus bisa menyesuaikan hobinya. Tapi itu anggap sebagai tantangan tersendiri.
Mei 2005, di Balai Pemuda diadakan Festival Seni Surabaya (FSS). Sejak pukul 17.00, Shinta sudah mengontakku untuk diajak ke pertunjukan teater. “Pokoknya kamu harus nonton. Nggak pernah nonton teater kan,” kata Shinta dengan penuh semangat. Tanpa pikir dua kali, aku pun mengangguk tanda setuju.
Pukul 18.30, pekerjaan di kantorku hampir rampung. Shinta sudah beberapakali mengontakku untuk langsung ke Balai Pemuda. Sebab, dia sudah membeli tiket masuk. Lima menit kemudian, pekerjaanku benar-benar rampung. Bergegas, aku pun kemudian memacu motor menyusuri jalanan menembus padatnya lalu lintas. Tidak sampai lima belas menit, aku sudah sampai di parkiran lokasi tempat pertunjukan. Seketika, kucari wajah polos Shinta yang sejak seminggu ini belum kubelai sama sekali. Setelah kutemukan, Shinta langsung menggandeng tanganku untuk masuk.
Hem, setelah sekitar satu jam, ternyata lumayan juga pertunjukan teater yang baru sekali dalam seumur hidup aku saksikan langsung ini. Shinta beberapakali memperhatikanku. Mungkin dia penasaran, apakah aku benar-benar suka atau tidak dengan pertunjukkan acting di atas panggung yang sudah ada sejak jaman Romawi ini. To be continued.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar